Di tengah meningkatnya kebutuhan pangan dunia, sawah padi tak lagi sekadar ladang penghasil beras. Ia kini menjadi ruang eksperimen hidup untuk mencari keseimbangan antara produksi pangan, penghematan air, dan kelestarian ekosistem. Salah satu pendekatan yang semakin banyak diterapkan adalah sistem pengairan selang-seling basah dan kering atau alternate wetting and drying (AWD). Metode ini lahir dari kenyataan bahwa air kian terbatas, sementara permintaan beras terus melonjak.
Namun, perubahan cara mengairi sawah bukan hanya soal air dan panen. Ia juga memengaruhi kehidupan kecil yang sering luput dari perhatian, seperti zooplankton organisme mikroskopis yang menjadi fondasi rantai makanan di ekosistem perairan sawah. Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian peneliti dan praktisi pertanian mulai tertuju pada sistem sawah padi yang dipadukan dengan tanaman air bernama duckweed atau kiambang kecil. Tanaman mungil yang mengapung ini ternyata membawa dampak besar bagi kehidupan sawah.
Sawah padi sejatinya adalah ekosistem semi-akuatik yang kaya kehidupan. Selain padi, air sawah menjadi rumah bagi bakteri, protozoa, rotifera, hingga zooplankton, yang kemudian menjadi makanan bagi serangga air, ikan kecil, dan organisme yang lebih besar. Zooplankton berperan penting sebagai penghubung antara produsen primer seperti fitoplankton dan makhluk hidup tingkat lebih tinggi. Keberadaannya sering digunakan sebagai penanda kesehatan ekosistem perairan karena siklus hidupnya singkat dan responsif terhadap perubahan lingkungan.
Dalam praktik pertanian konvensional, sawah biasanya digenangi air terus-menerus. Cara ini memang mendukung pertumbuhan padi, tetapi juga memicu emisi gas rumah kaca dan boros air. Pengeringan tengah musim atau midseason drainage mulai diterapkan untuk mengurangi dampak tersebut, namun hasilnya belum optimal. AWD kemudian hadir sebagai solusi yang lebih efisien, dengan memberi jeda kering dan basah secara bergantian. Metode ini terbukti mampu menghemat air, memperbaiki aerasi tanah, serta menekan emisi gas rumah kaca.
Ketika AWD dipadukan dengan duckweed, lahirlah sistem sawah yang tidak hanya hemat air, tetapi juga lebih hidup secara ekologis. Duckweed tumbuh cepat, menutup permukaan air, menekan gulma tanpa bahan kimia, menyerap nutrien berlebih, dan menjadi sumber bahan organik saat terurai. Namun pertanyaannya, bagaimana kombinasi siklus kering-basah AWD dan kehadiran duckweed memengaruhi kehidupan zooplankton?
Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa sawah dengan AWD yang dipadukan duckweed menjadi habitat paling ramah bagi zooplankton, baik dari sisi jumlah individu maupun keragaman jenis. Pada fase awal pertumbuhan padi hingga masa berbunga, sawah dengan kombinasi ini secara konsisten menunjukkan kehidupan mikro yang lebih kaya dibandingkan sawah yang digenangi terus-menerus tanpa duckweed. Bahkan setelah masa pengeringan tengah musim, sistem ini tetap mampu menjaga stabilitas ekosistem air.
Sebaliknya, sawah yang terus digenangi tanpa duckweed cenderung mengalami penurunan keanekaragaman zooplankton setelah pengeringan sementara. Kondisi ini menandakan adanya gangguan habitat yang membuat organisme kecil sulit bertahan. Air yang terlalu lama tergenang juga memicu perubahan kualitas lingkungan, seperti rendahnya oksigen terlarut, yang kurang ideal bagi banyak jenis zooplankton.
Faktor lingkungan seperti kadar oksigen terlarut, pH air, dan suhu terbukti sangat berpengaruh terhadap kehidupan zooplankton. Pada fase awal pertumbuhan padi, oksigen dan pH menjadi penentu utama, sementara pada fase berbunga, suhu air memainkan peran penting. Siklus basah-kering dalam AWD membantu mengendalikan pertumbuhan duckweed agar tidak berlebihan, sekaligus menyediakan bahan organik dari sisa tanaman yang terurai. Proses ini menciptakan kondisi yang lebih seimbang bagi kehidupan mikro di sawah.
Temuan ini memberi pesan penting bahwa praktik pertanian berkelanjutan tidak hanya diukur dari hasil panen, tetapi juga dari bagaimana ia menjaga kehidupan di balik layar. Sistem padi-duckweed dengan AWD menunjukkan bahwa efisiensi produksi dapat berjalan seiring dengan pelestarian keanekaragaman hayati. Sawah tidak lagi dipandang sebagai sistem produksi tunggal, melainkan sebagai ekosistem dinamis yang saling terhubung.
Di tengah ancaman krisis air dan pangan global, pendekatan seperti ini menawarkan harapan. Mengelola air dengan bijak sambil memberi ruang bagi kehidupan kecil untuk berkembang adalah langkah nyata menuju pertanian yang lebih berkelanjutan. Ke depan, pemahaman yang lebih mendalam tentang interaksi antarorganisme di sawah dapat membantu merancang sistem pertanian yang tidak hanya memberi makan manusia, tetapi juga menjaga kesehatan alam tempat kita bergantung.
