Padi adalah tumpuan hidup bagi lebih dari separuh populasi bumi. Di balik kilau hijau hamparan sawah yang membentang, krisis iklim dan keterbatasan sumber daya air terus menuntut para petani untuk beradaptasi. Salah satu cara yang kian populer adalah teknik irigasi selang-seling basah-kering atau Alternate Wetting and Drying (AWD). Metode ini dipuji di seluruh dunia karena terbukti hemat air dan mampu menekan emisi gas rumah kaca tanpa mengurangi hasil panen.
Namun, di atas permukaan sawah, ancaman lain yang tak kasat mata sedang mengintai dari udara.
Gas ozon tingkat permukaan (O3), polutan udara berbahaya yang terbentuk dari hasil sampingan aktivitas industri dan transportasi, terus meningkat konsentrasinya. Jika selama ini ozon dikenal merusak dedaunan dan menghambat fotosintesis, sebuah ancaman baru yang tak kalah mematikan kini terungkap: ozon ternyata diam-diam melemahkan struktur fisik batang padi, membuatnya sangat rentan tumbang atau roboh (lodging).
Ketika tanaman padi yang sedang sarat bulir mendadak roboh diterpa angin atau hujan, kerugian besar tak terhindarkan. Padi yang rebah membusuk di atas tanah yang basah, efisiensi fotosintesisnya anjlok, proses pengisian bulir terganggu, dan mesin pemanen mekanis menjadi sangat sulit bekerja.
Perseteruan Tak Seimbang di Dalam Batang Padi
Untuk memahami bagaimana racun udara dan teknik pengairan ini beradu pengaruh, para ilmuwan menguji tanaman padi di bawah paparan ozon tinggi serta penerapan teknik pengairan basah-kering yang terukur.
Hasilnya memperlihatkan sebuah kontras yang sangat tajam pada ketahanan fisik batang bawah padi—bagian paling krusial yang menopang seluruh bobot tanaman.
Paparan ozon tinggi bekerja bagaikan racun yang menggerogoti kekuatan internal tanaman. Ozon menurunkan ketahanan patah (breaking resistance) dan menipiskan kerapatan bobot kering pada ruas batang bawah. Akibatnya, indeks risiko roboh pada ruas batang bawah padi melonjak tajam antara 16 hingga 34 persen. Batang padi menjadi rapuh, ringkih, dan mudah patah saat menerima beban dari atas.
Di sisi lain, teknik irigasi basah-kering justru hadir bagaikan latihan beban bagi sang padi. Saat air sawah dibiarkan surut secara berkala sebelum dialiri kembali, akar padi terpacu untuk mencengkeram lebih dalam. Batang bawah tanaman merespons dengan memperlebar diameternya dan menebalkan dinding batangnya. Hasilnya, teknik irigasi hemat air ini berhasil memperkuat ketahanan batang dan menekan risiko roboh hingga 10 sampai 20 persen.
Ancaman Ozon yang Tak Terbendung
Semula, ada harapan besar bahwa manfaat menguatkan dari teknik irigasi basah-kering dapat sepenuhnya menetralkan efek merusak dari polusi ozon. Namun, fakta di lapangan menunjukkan hal yang mengejutkan.
Meski irigasi basah-kering terbukti mampu memperkokoh batang padi, efek perbaikan tersebut ternyata tidak cukup kuat untuk menutupi tingkat kerusakan yang ditimbulkan oleh tingginya paparan ozon. Risiko padi roboh akibat polusi udara tetap mengintai dengan ancaman yang nyata, sekalipun petani telah menerapkan teknik pengairan paling ramah lingkungan.
Fenomena ini memberikan peringatan baru bagi dunia pertanian modern. Menjaga ketahanan pangan global di masa depan tidak lagi cukup hanya dengan mengelola tanah dan air di tingkat permukaan.
Sains kini membuktikan bahwa kualitas udara yang kita hirup sehari-hari memiliki dampak langsung terhadap kekokohan fisik tanaman pangan kita. Tanpa upaya serius untuk menekan tingkat polusi udara di kawasan agraris, ancaman padi roboh akan tetap menjadi hantu ketidakpastian yang membayangi piring-piring nasi kita di masa depan.
