Apakah Biochar Bisa Mengurangi Emisi Metana dari Sapi? Fakta Menarik dari Dunia Peternakan Modern

Apakah Biochar Bisa Mengurangi Emisi Metana dari Sapi? Fakta Menarik dari Dunia Peternakan Modern

Dalam upaya global menghadapi perubahan iklim, salah satu perhatian besar tertuju pada gas metana (CH4). Gas ini memiliki dampak pemanasan yang jauh lebih kuat dibandingkan karbon dioksida, dan salah satu sumber utamanya adalah sistem pencernaan hewan ruminansia, seperti sapi. Tapi bagaimana jika solusi untuk mengurangi emisi gas rumah kaca ini justru berasal dari sesuatu yang biasa kita anggap limbah, seperti arang dari limbah kayu?

Mengenal Biochar: Arang Ramah Lingkungan

Biochar adalah produk hasil pembakaran bahan organik seperti kayu dalam kondisi tanpa oksigen (proses ini disebut pirolisis). Hasilnya adalah arang dengan struktur yang sangat berpori dan luas permukaan yang besar. Dalam beberapa penelitian, biochar terbukti bisa menyerap gas seperti metana atau bahkan memengaruhi komunitas mikroba dalam sistem pencernaan sapi.

Eksperimen di Peternakan: Sapi dan Biochar

Sebuah percobaan di peternakan sapi dilakukan untuk melihat apa yang terjadi jika biochar dicampurkan ke dalam pakan sapi penggemukan. Dua kelompok sapi diberi pakan yang sama, tapi satu kelompok ditambahkan biochar dalam jumlah kecil, kurang dari 1% dari total bahan kering pakan. Biochar yang digunakan berasal dari limbah kayu pinus, kaya karbon (83%) dan sangat berpori.

Hasilnya cukup mengejutkan: ternyata tidak ada perbedaan signifikan dalam jumlah metana dan karbon dioksida yang dihasilkan antara sapi yang diberi biochar dan yang tidak. Artinya, dalam kondisi ini, biochar tidak secara nyata mengurangi emisi gas rumah kaca dari sapi.

Namun, ditemukan bahwa sapi yang diberi biochar mengalami sedikit penurunan nafsu makan dan pertambahan bobot harian. Ini menyebabkan bobot karkas akhir mereka sedikit lebih ringan dibandingkan dengan sapi yang tidak diberi biochar.

Kenapa Hasilnya Berbeda-Beda?

Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan biochar bisa menurunkan emisi metana, terutama bila digunakan pada diet tertentu, seperti berbasis singkong atau silase barley. Tapi ada juga studi lain yang menunjukkan tidak ada efek apa pun, mirip dengan hasil di atas. Mengapa bisa berbeda?

Faktornya banyak: jenis biochar, bahan baku pembuatannya, suhu proses pembakaran, bahkan jenis pakan dan sapi yang digunakan bisa sangat memengaruhi hasil. Dengan kata lain, biochar bukanlah solusi instan atau seragam, perlu pendekatan yang lebih teliti dan spesifik.

Harapan, Tapi Bukan Jawaban Tunggal

Menggunakan biochar dalam pakan sapi memang menjanjikan sebagai bagian dari strategi mengurangi jejak karbon di sektor peternakan, namun, hasil dari penelitian di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua jenis biochar atau kombinasi diet memberikan hasil yang diharapkan. Perlu kajian lebih lanjut untuk benar-benar mengoptimalkan manfaatnya.

Meskipun belum menjadi solusi tunggal, penggunaan biochar tetap memiliki nilai tambah lain: memanfaatkan limbah organik, membantu struktur tanah, dan bisa menjadi bagian dari sistem pertanian berkelanjutan di masa depan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *