Keberadaan senyawa aktif farmasi (PhACs) dalam lingkungan perairan, khususnya antibiotik seperti rifampisin (RIFM) dan tigeciklin (TIGC), menjadi ancaman serius bagi kesehatan manusia dan ekosistem. Pengolahan air limbah secara tradisional sering kali tidak mampu menghilangkan senyawa-senyawa ini, sehingga diperlukan solusi baru yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Mangga (Mangifera indica L.) adalah buah tropis yang banyak dikonsumsi di seluruh dunia, menghasilkan sekitar 56 juta ton per tahun. Namun, biji mangga yang mencakup hingga 55% dari buah sering kali menjadi limbah yang tidak dimanfaatkan. Dalam upaya mengurangi limbah dan menciptakan solusi untuk pengolahan air limbah, para peneliti mengolah biji mangga menjadi biochar, yaitu bahan karbon yang digunakan untuk mengadsorpsi kontaminan dari air.
Telah diteliti biji mangga yang diubah menjadi dua jenis biochar, yakni biochar murni (Py–MSK) dan biochar yang dilapisi dengan nano-ceria (Ce–Py–MSK). Kedua jenis biochar ini diuji kemampuannya untuk menghilangkan RIFM dan TIGC dari air limbah.
Penelitian menunjukkan bahwa Ce–Py–MSK, biochar yang dilapisi nano-ceria, memiliki kemampuan lebih tinggi dalam menghilangkan antibiotik dari air limbah dibandingkan dengan biochar murni. Ce–Py–MSK berhasil menghilangkan 92,36% RIFM dan 90,13% TIGC, menjadikannya adsorben yang sangat efektif.
Analisis menunjukkan bahwa Ce–Py–MSK memiliki luas permukaan yang lebih besar, yang berkontribusi pada efektivitasnya dalam proses adsorpsi. Selain itu, pendekatan multivariat digunakan untuk mengoptimalkan variabel yang mempengaruhi proses adsorpsi, seperti pH, dosis adsorben, konsentrasi obat, dan waktu kontak.
Pemanfaatan biochar dari biji mangga, terutama yang dilapisi dengan nano-ceria, menawarkan solusi efektif dan ramah lingkungan untuk menghilangkan antibiotik dari air limbah. Dengan semakin meningkatnya kontaminasi senyawa farmasi di lingkungan perairan, inovasi seperti ini menjadi sangat penting dalam upaya melindungi kesehatan manusia dan ekosistem.
