Biochar dari Cangkang Kenari: Solusi Inovatif untuk Degradasi Pestisida di Tanah dan Tanaman!

Biochar dari Cangkang Kenari: Solusi Inovatif untuk Degradasi Pestisida di Tanah dan Tanaman!

Pertanian modern menghadapi tantangan besar terkait penggunaan pestisida yang berlebihan. Meskipun pestisida dapat mencegah kerugian besar pada hasil panen, penggunaannya yang berlebihan berdampak buruk pada manusia dan lingkungan. Dengan peningkatan praktik produksi tanaman berbasis agrokimia, kontaminasi organik persisten dalam rantai makanan dan lingkungan sekitar menjadi perhatian publik yang serius. China, yang menggunakan hampir 30% dari total pestisida global hanya pada 9% dari total lahan pertanian dunia, sangat rentan terhadap polusi pestisida.

Biochar: Harapan Baru untuk Pertanian Berkelanjutan

Biochar, bahan kaya karbon yang dihasilkan dari pirolisis biomassa dalam kondisi oksigen terbatas, telah menarik perhatian sebagai solusi potensial untuk meningkatkan kualitas tanah dan mengurangi pencemaran pestisida. Biochar memiliki kemampuan adsorpsi yang kuat, luas permukaan spesifik yang besar, gugus fungsi yang melimpah, serta sumber nutrisi yang kaya bagi tanaman. Walnut shell biochar (WSB), yang kaya akan cincin benzylic C dan lignin arang, adalah salah satu jenis biochar yang menjanjikan.

Dalam sebuah studi, peneliti mengkaji dampak WSB terhadap dinamika degradasi dua jenis pestisida, klorantraniliprol (CAP) dan aseto-klor (acetochlor), di lahan Brassica chinensis L. Struktur gugus fungsi, struktur cincin aromatik, dan ukuran kristalit dari WSB ditentukan melalui analisis termogravimetri dan analisis termogravimetri derivatif (TGA-DTG), NMR, spektroskopi Raman, dan difraksi sinar-X.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi WSB sebanyak 5% (v/v) pada tanah akar meningkatkan pertumbuhan B. chinensis L. Analisis dinamika degradasi menunjukkan bahwa waktu paruh CAP pada B. chinensis L. dan di tanah tidak banyak berubah. Namun, untuk aseto-klor, waktu paruh di tanah adalah 6,93 hari dengan aplikasi WSB dibandingkan dengan 9,90 hari tanpa aplikasi WSB. Aplikasi WSB juga meningkatkan nilai faktor biokonsentrasi lebih signifikan untuk aseto-klor dibandingkan dengan CAP.

Klorantraniliprol (CAP) adalah insektisida yang banyak digunakan dalam pertanian untuk mengendalikan berbagai spesies lepidopteran pada tanaman seperti padi, jagung, kacang-kacangan, dan apel. Namun, penggunaan CAP yang meluas menimbulkan kekhawatiran tentang potensi polusi lingkungan sekitarnya. Sementara itu, aseto-klor adalah herbisida yang banyak digunakan pada tanaman seperti jagung, kedelai, kapas, dan kacang tanah di China. Penggunaan aseto-klor yang meluas telah menyebabkan deteksi zat ini di tanah, sumber air minum, dan aliran sungai.

Manfaat Biochar dalam Pengendalian Pestisida

Biochar memiliki potensi besar untuk mengurangi pencemaran pestisida. Studi lapangan menunjukkan bahwa penambahan biochar ke tanah dapat meningkatkan ketersediaan hayati pestisida dan mengurangi penyerapan pestisida oleh tanaman. Misalnya, sebuah penelitian menemukan bahwa perbaikan tanah dengan biochar mengurangi ketersediaan hayati CAP bagi cacing tanah. Penelitian lainnya menunjukkan bahwa penambahan biochar serpihan kayu ke tanah secara signifikan meningkatkan sorpsi asetamiprid, dan disipasi asetamiprid di tanah yang ditingkatkan dengan biochar tertunda dibandingkan dengan tanah tanpa peningkatan biochar.

Inovasi ini memberikan wawasan penting tentang penggunaan WSB sebagai solusi inovatif untuk pengelolaan pestisida di tanah pertanian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa WSB memiliki dampak yang lebih besar terhadap degradasi aseto-klor dibandingkan dengan CAP. Penemuan ini memberikan harapan baru bagi pertanian berkelanjutan, dengan menggunakan biochar untuk mengurangi dampak buruk pestisida terhadap lingkungan. Dengan adopsi biochar secara luas, kita dapat mencapai pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEnglish