chicken farming

Biochar, Inovasi Solutif untuk Produksi Unggas yang Berkelanjutan!

Poland saat ini menjadi produsen daging unggas terbesar di Uni Eropa, menghasilkan lebih dari 2,5 juta ton daging pada tahun 2019, yang menyumbang sekitar 17% dari total produksi di seluruh Eropa. Sebagian besar daging ini berasal dari ayam broiler, yaitu sekitar 83%. Namun, seiring dengan besarnya produksi, ada tantangan besar yang harus dihadapi: polusi gas, terutama amonia (NH3), yang berdampak buruk pada kesehatan pekerja, lingkungan sekitar, dan tentu saja pada kesejahteraan hewan. Selain itu, bau tak sedap yang berasal dari peternakan sering menjadi keluhan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

Bagi peternak dan pihak berwenang, masalah ini bukan hanya tentang produksi, tapi juga bagaimana menjaga keseimbangan antara produktivitas dan tanggung jawab lingkungan. Beberapa teknologi sudah diuji di peternakan babi untuk mengurangi emisi gas, seperti penggunaan sistem penyaring udara atau zat aditif pada kotoran. Namun, satu inovasi baru yang menarik perhatian adalah penggunaan biochar, bahan organik berkarbon tinggi yang dihasilkan dari biomassa.

Biochar sebenarnya tidak hanya baru di dunia ilmiah, tetapi juga mulai menjanjikan sebagai aditif pakan unggas. Walaupun penelitian masih terbatas, hasil awal menunjukkan bahwa biochar berpotensi memperbaiki performa ternak dan mengurangi emisi gas rumah kaca dari peternakan. Biochar dihasilkan melalui proses yang disebut pirolisis, di mana biomassa (seperti limbah pertanian) dipanaskan pada suhu tinggi tanpa oksigen. Hasil akhirnya adalah bahan padat kaya karbon dan beberapa gas sampingan.

Menariknya, hasil dari penggunaan biochar sebagai aditif pakan bisa sangat bervariasi. Dalam beberapa penelitian, penambahan biochar dalam diet ayam broiler menghasilkan peningkatan konversi pakan, meskipun di beberapa kasus terjadi penurunan berat badan. Di sisi lain, penelitian lain menunjukkan hasil yang positif pada ayam petelur, seperti peningkatan produksi telur dan ketebalan cangkang.

Para Ilmuwan melakukan eksperimen dengan menambahkan biochar kayu beech (BC) dan campuran biochar dengan aluminosilikat dan gliserin (BCM) ke dalam pakan ayam petelur. Hasilnya cukup mengesankan, ayam yang diberi BC mengonsumsi lebih banyak pakan, sedangkan yang diberi BCM justru lebih sedikit. Namun, kedua perlakuan tersebut berhasil meningkatkan produktivitas bertelur hingga 6%, memperkuat cangkang telur hingga 10%, dan menambah ketebalan cangkang hingga 6%. Dalam hal rasa, analisis sensorik pada telur rebus menunjukkan tidak ada perbedaan berarti dibandingkan dengan telur dari ayam yang diberi pakan biasa.

Tidak hanya itu, kandungan nitrogen dalam kotoran ayam turun 4 hingga 20%, yang artinya potensi polusi udara berkurang. Meskipun pengurangan emisi amonia dan senyawa organik volatil (VOC) belum signifikan secara statistik, hasil ini tetap memberi harapan bahwa biochar memiliki potensi untuk menekan dampak lingkungan dari peternakan unggas.

Penelitian kini terfokus pada ayam broiler, dengan tujuan melihat apakah penambahan biochar dan BCM dalam pakan mereka juga bisa memberikan manfaat serupa. Para peneliti mengukur berbagai aspek, mulai dari pertambahan berat badan harian, massa dada dan paha, hingga kualitas daging. Selain itu, mereka juga mengukur emisi amonia dan bau dari kotoran mereka.

Jika suplementasi pakan dengan biochar dapat mengurangi emisi gas dan bau tanpa menurunkan kualitas daging dan performa ayam, maka kita bisa menemukan cara baru yang lebih ramah lingkungan dalam memproduksi daging unggas. Teknologi seperti ini bisa menjadi kunci bagi masa depan peternakan yang lebih berkelanjutan, sebuah langkah penting bagi industri yang tidak hanya memikirkan produktivitas, tapi juga lingkungan serta kesejahteraan masyarakat sekitar.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *