Di tengah krisis iklim dan meningkatnya kebutuhan pangan dunia, muncul satu gagasan yang terdengar nyaris sempurna. Biomassa dibakar tanpa oksigen, diubah menjadi arang hitam bernama biochar, lalu dikubur ke dalam tanah. Hasilnya, kata para pendukungnya, karbon tersimpan selama ratusan hingga ribuan tahun, tanah menjadi lebih subur, air lebih lama tertahan, panen meningkat, dan perubahan iklim pun bisa diperlambat. Jika semua klaim ini benar, biochar bisa mengubah cara manusia mengelola lahan di seluruh dunia.
Namun, seperti banyak solusi besar lainnya, kisah biochar ternyata jauh lebih rumit daripada narasi optimistis yang sering beredar.
Biochar sering dipromosikan sebagai solusi ganda: menyelamatkan iklim sekaligus meningkatkan ketahanan pangan. Klaimnya mengesankan. Tanah menjadi lebih subur, tanaman tumbuh lebih baik, kapasitas tanah menahan air meningkat, dan yang paling sering dibicarakan, karbon terkunci di dalam tanah dalam jangka waktu sangat panjang. Dengan cara ini, karbon yang seharusnya kembali ke atmosfer sebagai karbon dioksida bisa “diamankan” di dalam tanah.
Ide ini bertumpu pada satu asumsi utama: biochar sangat stabil dan sulit terurai. Jika benar, biochar bisa menjadi semacam brankas karbon alami. Beberapa perhitungan bahkan menyebutkan bahwa jika sekitar 10 persen biomassa global setiap tahun diubah menjadi biochar dan dikubur, kenaikan karbon dioksida di atmosfer bisa ditekan secara signifikan.
Tak heran, gagasan ini melampaui jurnal ilmiah dan masuk ke media populer, buku-buku solusi iklim, hingga proposal kebijakan karbon. Organisasi internasional, lembaga energi, dan pelaku pasar karbon mulai melirik biochar sebagai alat mitigasi perubahan iklim. Ada yang memperkirakan biochar berpotensi menurunkan emisi gas rumah kaca global hingga belasan persen, dengan asumsi sebagian besar karbon biochar tetap berada di tanah selama lebih dari satu abad.
Namun, ketika para peneliti menelusuri bukti ilmiah yang ada, gambaran yang muncul tidak sesederhana itu.
Bukti ilmiah yang masih terfragmentasi
Tinjauan sistematis terhadap ratusan publikasi ilmiah menunjukkan bahwa meski minat terhadap biochar terus meningkat, penelitian lapangan yang benar-benar komprehensif masih sangat terbatas. Dari ratusan studi yang tersedia, hanya segelintir yang meneliti dampak biochar langsung di lapangan terhadap proses ekosistem yang krusial.
Misalnya, penelitian tentang pengaruh biochar terhadap kehilangan nutrisi tanah, kontaminan, atau emisi gas rumah kaca non-karbon dioksida masih sangat sedikit. Beberapa studi bahkan tidak mendukung klaim bahwa biochar selalu menurunkan emisi gas rumah kaca seperti metana atau dinitrogen oksida. Penelitian tentang dampaknya terhadap tanaman dan sifat tanah memang ada, tetapi jumlahnya belum cukup untuk mewakili beragam kondisi iklim, jenis tanah, dan sistem pertanian di dunia.
Yang paling krusial adalah pertanyaan tentang stabilitas biochar itu sendiri. Dari puluhan studi yang membahas stabilitas dan nasib biochar di tanah, hanya sedikit yang benar-benar mengukur seberapa cepat biochar terurai di lingkungan alami. Hasilnya pun sangat bervariasi. Dalam beberapa kondisi, biochar tampak bertahan hanya beberapa tahun. Dalam kondisi lain, ia bisa bertahan ribuan tahun. Rentang yang sangat lebar ini menunjukkan bahwa stabilitas biochar sangat bergantung pada konteks: jenis bahan baku, cara pembuatannya, jenis tanah, iklim, dan praktik pengelolaan lahan.
Sering kali, klaim tentang ketahanan biochar merujuk pada ditemukannya arang kuno di tanah Amazon atau wilayah lain. Namun, keberadaan arang tua tidak otomatis berarti semua biochar bertahan lama. Bisa jadi, arang yang tersisa hanyalah sebagian kecil dari jumlah awal yang sebagian besarnya telah terurai tanpa jejak.
Lebih dari sekadar mengubur karbon
Bahkan jika biochar memang stabil, menghitung manfaat iklimnya tidak bisa berhenti sampai di situ. Proses menanam, memanen, mengangkut biomassa, memproduksi biochar, hingga mengaplikasikannya ke tanah semuanya menghasilkan emisi. Untuk mengetahui apakah biochar benar-benar menguntungkan iklim, seluruh siklus hidupnya harus dihitung secara jujur.
Analisis semacam ini membutuhkan data yang solid. Sayangnya, ketersediaan data masih terbatas. Tanpa data yang memadai, hasil perhitungan manfaat iklim biochar bisa sangat bergantung pada asumsi, bukan fakta lapangan.
Selain itu, biochar juga bukan tanpa risiko. Beberapa peneliti memperingatkan potensi dampak negatif, seperti pelepasan logam berat ke tanah atau penurunan efektivitas pestisida. Seberapa sering dampak samping ini terjadi masih belum jelas, karena minimnya penelitian jangka panjang di lapangan.
Antara harapan dan kehati-hatian
Biochar tetap menyimpan potensi. Ada bukti bahwa dalam kondisi tertentu, ia bisa meningkatkan kesuburan tanah, memperbaiki kemampuan tanah menahan air, dan mendukung pertumbuhan tanaman. Namun, bukti tersebut belum cukup kuat untuk menyimpulkan bahwa biochar selalu menjadi solusi ideal di semua tempat.
Kisah biochar adalah pengingat penting dalam upaya mengatasi perubahan iklim. Solusi berbasis alam memang menjanjikan, tetapi tidak ada jalan pintas. Setiap klaim besar perlu diuji di lapangan, dalam berbagai kondisi, dan dalam jangka waktu panjang.
Jika biochar ingin benar-benar menjadi bagian dari strategi mitigasi iklim global, dunia membutuhkan lebih banyak penelitian lapangan yang sistematis, transparan, dan jangka panjang. Kita juga perlu membandingkan biochar dengan alternatif penggunaan biomassa lainnya, bukan hanya dari sisi karbon, tetapi juga dari dampaknya terhadap pangan, lingkungan, dan masyarakat.
Di balik warna hitamnya yang sederhana, biochar menyimpan cerita kompleks tentang harapan, ketidakpastian, dan kebutuhan akan kehati-hatian. Ia mungkin bukan solusi ajaib, tetapi dengan pemahaman yang lebih jernih, biochar bisa menjadi salah satu alat, bukan satu-satunya jawaban, dalam menghadapi krisis iklim dan pangan yang semakin nyata.
