Dengan berkembangnya industri dan aktivitas pertanian modern, pencemaran logam berat seperti timbal (Pb) di perairan semakin memprihatinkan. Timbal dikenal sebagai logam beracun yang sulit diurai dan cenderung menumpuk dalam organisme hidup. Jika dibiarkan, hal ini bisa berdampak serius pada kesehatan manusia serta merusak keseimbangan ekosistem. Oleh karena itu, mencari solusi efektif untuk menghilangkan timbal dari limbah cair menjadi sebuah tantangan mendesak.
Berbagai metode telah dikembangkan, mulai dari oksidasi canggih, pengolahan biologis, hingga teknologi elektrokimia. Namun, teknologi adsorpsi menjadi pilihan favorit karena lebih aman, efisien, dan ekonomis. Salah satu bahan adsorben yang paling banyak menarik perhatian para peneliti adalah biochar.
Biochar adalah material karbon yang dibuat dengan memanaskan bahan organik biologis dalam kondisi minim oksigen, atau dikenal sebagai pirolisis. Material ini memiliki banyak keunggulan, seperti:
- Struktur pori-pori yang stabil dan luas,
- Luas permukaan yang tinggi,
- Kelompok fungsi permukaan yang melimpah.
Dengan sifat-sifat tersebut, biochar banyak digunakan sebagai penyerap polutan seperti logam berat dan juga untuk meningkatkan kesuburan tanah. Namun, biochar sendiri tidak sempurna. Penelitian menunjukkan bahwa dalam proses adsorpsi logam berat, biochar bisa menyebabkan polusi sekunder. Oleh karena itu, para peneliti mengembangkan biochar dengan memodifikasinya menggunakan material tambahan untuk menciptakan biochar komposit dengan kemampuan adsorpsi yang lebih baik.
Selain biochar, carbon nanotubes (CNTs) adalah material adsorben canggih dengan karakteristik unik seperti struktur berongga, luas permukaan besar, dan afinitas tinggi terhadap logam berat. Sayangnya, CNTs memiliki kelemahan: sulit larut dalam air dan cenderung menggumpal.
Untuk mengatasi masalah ini, CNTs dapat digabungkan dengan biochar. Biochar berfungsi sebagai pembawa yang memberikan ruang pori dan tempat distribusi yang merata bagi CNTs. Kombinasi keduanya menciptakan biochar komposit, atau disebut juga “engineered biochar”, yang memiliki kemampuan adsorpsi jauh lebih tinggi dibandingkan biochar biasa. Ini menjadi solusi potensial untuk pengolahan limbah dan perlindungan lingkungan.
Penelitian tersebut bertujuan untuk:
- Menghasilkan biochar komposit berbasis nanomaterial melalui metode impregnasi dan mengevaluasi kemampuannya dalam menyerap timbal (Pb(II)).
- Menggunakan Pb(II) sebagai contoh polutan logam untuk mempelajari berbagai faktor yang mempengaruhi proses adsorpsi, seperti konsentrasi awal, pH, waktu reaksi, dan suhu.
- Memahami mekanisme adsorpsi melalui analisis menggunakan model matematis dan karakterisasi material menggunakan alat seperti SEM (Scanning Electron Microscopy), FTIR (Fourier Transform Infrared Spectroscopy), dan XRD (X-ray Diffraction).
Penelitian terdahulu menggunakan berbagai bahan baku biochar, seperti ampas gula, limbah hewan, dan biomassa pohon. Kali ini, penelitian difokuskan pada kulit kastanye yang belum banyak dieksplorasi. Kulit kastanye diolah melalui proses pirolisis lambat dan dimodifikasi dengan CNTs untuk menghasilkan biochar komposit berkualitas tinggi.
Studi ini mengevaluasi bagaimana faktor-faktor seperti pH larutan, konsentrasi Pb(II), dan suhu mempengaruhi efisiensi adsorpsi. Dengan bantuan alat karakterisasi seperti SEM, FTIR, dan XRD, peneliti juga mempelajari struktur serta sifat biochar komposit.
Hasil penelitian tidak hanya menunjukkan seberapa efektif biochar komposit dalam menyerap timbal dari limbah cair, tetapi juga memberikan pemahaman mendalam tentang mekanisme adsorpsi yang terjadi. Selain itu, penelitian ini menawarkan solusi praktis, ekonomis, dan ramah lingkungan dengan memanfaatkan limbah biomassa seperti kulit kastanye untuk menciptakan material penyerap polusi berkualitas tinggi.
Dengan pendekatan ini, diharapkan biochar komposit berbasis CNTs dapat menjadi salah satu solusi inovatif untuk mengatasi pencemaran logam berat di perairan. Ini tidak hanya membantu menjaga kesehatan ekosistem, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi limbah biomassa yang sering kali terabaikan.
