Dalam beberapa tahun terakhir, biochar mulai menarik perhatian para peneliti dan petani di seluruh dunia. Bukan hanya karena kemampuannya menyimpan karbon dan menekan emisi gas rumah kaca, tetapi juga karena potensinya dalam memperbaiki kualitas tanah dan membantu pertumbuhan tanaman.
Biochar sendiri adalah bahan padat kaya karbon yang dihasilkan dari pembakaran biomassa (seperti sisa tanaman atau kotoran hewan) pada suhu tinggi dalam kondisi minim oksigen. Proses ini disebut pirolisis, dan hasilnya adalah produk hitam mirip arang, namun dengan struktur dan fungsi yang jauh lebih kompleks dan bermanfaat bagi tanah.
Sebuah studi menarik dilakukan dengan menggunakan dua jenis biochar yang berbeda: satu berasal dari sisa tanaman semanggi putih (white clover residues), dan satu lagi dari kotoran ayam. Keduanya diaplikasikan ke tanah bertekstur lempung berdebu (loam soil) tempat tanaman jagung dan gandum ditanam di bawah kondisi rumah kaca. Tujuannya sederhana namun penting: untuk melihat bagaimana biochar memengaruhi kesuburan tanah, pertumbuhan tanaman, dan penyerapan nitrogen (N), unsur penting bagi produktivitas tanaman.
Hasilnya luar biasa. Tanaman jagung dan gandum yang mendapat perlakuan biochar, baik digunakan sendiri maupun dikombinasikan dengan pupuk nitrogen, menunjukkan pertumbuhan dan produksi biomassa yang jauh lebih baik dibandingkan dengan tanah tanpa perlakuan. Secara umum, biochar dari kotoran ayam (PMB) memberikan hasil pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan biochar dari semanggi putih (WCRB).
Yang menarik, ketika biochar dicampur dengan setengah dosis pupuk nitrogen, pertumbuhan tanaman justru setara atau bahkan melebihi hasil dari penggunaan pupuk kimia penuh. Ini artinya, biochar mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk nitrogen, sehingga kebutuhan pupuk kimia bisa dikurangi tanpa menurunkan hasil panen.
Dari sisi kandungan nutrisi, biochar meningkatkan kadar nitrogen pada batang jagung hingga 26% lebih tinggi dibandingkan tanah tanpa perlakuan. Sementara pada gandum, meskipun peningkatannya tidak sebesar jagung, penyerapan nitrogen juga meningkat hingga 2,5 kali lipat dibandingkan perlakuan pupuk biasa.
Selain manfaat langsung pada tanaman, efek biochar terhadap tanah juga sangat signifikan. Analisis setelah panen menunjukkan bahwa biochar mampu meningkatkan pH tanah (mengurangi keasaman), menambah kandungan bahan organik, memperkaya karbon total dan nitrogen total, serta memperbaiki porositas tanah. Bahkan, berat jenis tanah (bulk density) menurun, yang berarti struktur tanah menjadi lebih gembur dan mudah ditembus akar.
Sebagai gambaran, tanah tanpa biochar hanya memiliki bahan organik sekitar 10–11 g/kg, sedangkan tanah yang diberi biochar meningkat hingga lebih dari 23 g/kg. Porositas juga membaik, membuat tanah lebih mampu menahan air dan udara, dua unsur vital bagi pertumbuhan tanaman sehat.
Hasil ini menegaskan bahwa biochar bukan sekadar bahan pembenah tanah biasa. Ia bekerja dalam banyak aspek sekaligus: memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kesuburan, mengoptimalkan penyerapan pupuk, dan bahkan menyimpan karbon di dalam tanah untuk jangka panjang.
Masalah utama pertanian di banyak wilayah, termasuk di Pakistan dan Asia Selatan, adalah rendahnya kandungan bahan organik tanah, sering kali kurang dari 1%. Tanah yang miskin bahan organik cepat kehilangan nutrisi, padahal sumber biomassa seperti sisa tanaman dan kotoran hewan sebenarnya berlimpah di sekitar petani.
Dengan mengubah limbah-limbah itu menjadi biochar, kita tidak hanya mengurangi pencemaran lingkungan, tapi juga menghidupkan kembali tanah yang lelah dan miskin nutrisi. Dalam konteks yang lebih luas, biochar bisa menjadi solusi hijau bagi keberlanjutan pertanian dan ketahanan pangan di masa depan.
Kesimpulannya, penerapan biochar, terutama dari sumber alami seperti kotoran ayam dan sisa tanaman, terbukti mampu meningkatkan kualitas tanah, memperkuat pertumbuhan tanaman, dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia. Lebih dari sekadar teknologi baru, biochar adalah jembatan antara pertanian tradisional dan masa depan yang lebih ramah lingkungan, efisien, dan berkelanjutan.
