Budidaya tanpa tanah dengan media substrat terus berkembang, dan salah satu tantangan utamanya adalah mengurangi atau menggantikan penggunaan gambut. Gambut memiliki dampak negatif besar terhadap ekologi dan lingkungan. Oleh karena itu, para pemangku kepentingan kini semakin didorong untuk mencari alternatif yang lebih ramah lingkungan.
Alternatif Ramah Lingkungan untuk Gambut
Sejumlah penemuan menunjukkan bahwa masa depan media tanam terletak pada campuran berbagai komponen terbarukan yang diproduksi secara lokal. Salah satu alternatif yang menjanjikan adalah penggunaan kompos limbah padat kota (MSW) dan biochar. Keduanya tidak hanya terbarukan tetapi juga membantu mengurangi jejak karbon dan menjaga limbah organik dari tempat pembuangan sampah.
Biochar, yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman, telah terbukti efektif dalam campuran substrat. Misalnya, penambahan biochar pada campuran serabut kelapa dan tuf (abu vulkanik) dapat meningkatkan tinggi tanaman tomat dan berat kering paprika. Namun, biochar dan kompos biasanya memiliki salinitas dan pH yang tinggi, sehingga perlu penyesuaian tambahan.
Untuk mengatasi masalah salinitas dan pH tinggi, kulit kayu pinus dan perlit dapat ditambahkan ke dalam campuran. Kulit kayu pinus dapat membantu menurunkan pH dan meningkatkan kapasitas tukar kation, sementara perlit dapat meningkatkan aerasi dengan menambah proporsi pori-pori besar dalam substrat.
Dampak pada Pertumbuhan Tanaman
Setiap campuran substrat memiliki sifat fisikokimia yang berbeda, yang dapat mempengaruhi ketersediaan air, nutrisi, dan udara di zona akar. Hal ini berdampak pada hasil panen, akumulasi mineral, dan aktivitas antioksidan tanaman. Penggunaan bahan-bahan alternatif seperti kompos limbah padat kota dan biochar tidak hanya mengurangi dampak lingkungan dari penggunaan gambut tetapi juga menyediakan solusi berkelanjutan untuk pengelolaan limbah organik dan meningkatkan produktivitas tanaman. Inovasi ini merupakan langkah maju menuju praktik pertanian yang lebih hijau dan berkelanjutan.
