Industri peternakan modern menghadapi tantangan besar dalam mengelola limbah cair, terutama kotoran ternak yang disimpan dalam bentuk slurry atau lagoon. Meski cara ini memudahkan penyimpanan dan pemanfaatan kembali sebagai pupuk, kenyataannya kolam limbah sering menjadi sumber bau menyengat serta gas berbahaya seperti amonia, metana, karbon dioksida, hingga dinitrogen oksida, semuanya berkontribusi terhadap pencemaran udara dan perubahan iklim.
Bau yang ditimbulkan juga bukan hal sepele. Senyawa volatil seperti amonia, sulfida, asam lemak, dan fenol membuat udara di sekitar peternakan sering kali tidak nyaman bahkan bisa menimbulkan masalah kesehatan. Lebih jauh, emisi amonia juga dapat jatuh kembali ke tanah atau perairan, memicu eutrofikasi yang merusak ekosistem.
Selama ini, petani dan peneliti mencoba berbagai cara untuk mengurangi emisi gas dan bau dari kolam limbah, salah satunya dengan menutup permukaan slurry menggunakan material organik seperti jerami, minyak nabati, atau serbuk kayu. Namun, efektivitas bahan-bahan tersebut masih terbatas, apalagi perawatannya cukup rumit dan biayanya tinggi.
Di sinilah biochar menawarkan solusi baru. Biochar adalah material kaya karbon yang dihasilkan dari pembakaran biomassa dengan oksigen terbatas (proses pyrolysis). Bentuknya mirip arang, tapi memiliki pori-pori mikroskopis yang membuatnya mampu menyerap gas, bau, hingga nutrisi. Biochar juga tahan lama di lingkungan, sehingga sebagian karbonnya bisa dianggap tersimpan dalam jangka panjang, sekaligus membantu mengurangi emisi karbon.
Dalam sebuah uji coba, dua jenis biochar dari kayu Douglas-fir digunakan sebagai penutup terapung di permukaan kolam limbah susu. Hasilnya cukup menjanjikan. Salah satu jenis biochar, yang disebut HF600, mampu menurunkan kadar amonia di udara hingga 72–80%. Selain itu, biochar ini juga menyerap nutrisi penting dari slurry, termasuk nitrogen, fosfor, kalium, serta mineral lain seperti kalsium, magnesium, dan besi. Ketika biochar kaya nutrisi ini nantinya diaplikasikan kembali ke tanah, ia bisa berfungsi sebagai pupuk alami sekaligus memperbaiki kualitas tanah.
Tak hanya diuji secara kimia, efektivitas biochar juga dinilai lewat panel sensorik yang menilai tingkat bau dari kolam. Hasilnya, beberapa jenis biochar terbukti mampu menurunkan intensitas bau dibanding kontrol tanpa penutup. Artinya, biochar tidak hanya bekerja secara teknis, tapi juga terbukti memberikan dampak nyata pada kenyamanan lingkungan sekitar.
Biochar terapung hadir sebagai inovasi yang menggabungkan tiga manfaat sekaligus, mengurangi emisi gas berbahaya, meredam bau menyengat, dan menyerap nutrisi agar bisa dimanfaatkan kembali di lahan pertanian. Dengan sifatnya yang ramah lingkungan, ringan, dan multifungsi, biochar berpotensi menjadi “perisai alami” di kolam limbah ternak dan bagian dari siklus pertanian berkelanjutan.
