Di tengah krisis iklim dan degradasi lahan yang kian meluas, biochar sering disebut sebagai “arang hitam ajaib”. Ia mampu mengikat karbon di tanah, memperbaiki kualitas tanah pertanian, sekaligus menyerap berbagai zat pencemar berbahaya. Namun di balik potensi besarnya, ada satu hal penting yang kerap luput dari perhatian publik: tidak semua biochar itu sama, dan tidak semuanya aman untuk lingkungan.
Biochar adalah produk kaya karbon yang dihasilkan dari pemanasan bahan organik dalam kondisi minim oksigen, sebuah proses yang dikenal sebagai pirolisis. Bahan bakunya bisa sangat beragam, mulai dari serpihan kayu, jerami, kotoran ternak, hingga limbah konstruksi. Perbedaan bahan baku dan suhu pembakaran inilah yang membuat sifat fisik dan kimia biochar bisa sangat bervariasi. Ada biochar yang sangat baik untuk tanah, tapi ada juga yang justru membawa masalah baru.
Karena itulah, pada tahun 2013, International Biochar Initiative atau IBI memperkenalkan panduan standar internasional tentang definisi produk dan metode pengujian biochar. Panduan ini menjadi semacam “uji kelayakan” untuk memastikan biochar yang beredar benar-benar aman dan bermanfaat jika diaplikasikan ke tanah.
Dalam sebuah kajian karakterisasi biochar, enam jenis biochar yang dibuat dari tiga bahan baku berbeda dan dua suhu pirolisis dianalisis secara mendalam. Tujuannya bukan sekadar melihat apakah biochar ini “bisa dipakai”, tetapi untuk memahami sejauh mana kualitasnya memenuhi standar global sebagai pembenah tanah dan penyerap polutan.
Beragam parameter diuji, mulai dari sifat kimia dasar seperti pH, kandungan karbon organik, kadar air, hingga kapasitas tukar kation yang menentukan kemampuan tanah menahan unsur hara. Luas permukaan spesifik juga diukur, karena semakin luas permukaannya, semakin besar pula kemampuan biochar menyerap nutrien dan kontaminan. Ukuran partikel, komposisi unsur, serta stabilitas material juga tak luput dari perhatian.
Namun pengujian tidak berhenti di situ. Biochar juga harus “lulus” uji keamanan. Kandungan logam berat seperti arsenik, kromium, tembaga, timbal, hingga merkuri dianalisis dengan ketat. Senyawa berbahaya seperti PAH dan PCB, yang bisa muncul akibat bahan baku tercemar atau proses pirolisis yang tidak tepat, juga diperiksa. Selain uji kimia, biochar diuji secara biologis melalui uji penghindaran cacing tanah dan uji perkecambahan tanaman. Jika organisme tanah enggan mendekat atau benih gagal tumbuh, itu pertanda biochar tersebut tidak ramah lingkungan.
Hasilnya cukup menenangkan, sekaligus memberi peringatan. Hampir semua biochar yang diuji memenuhi kriteria ketat yang ditetapkan IBI. Perbedaan antar biochar relatif kecil, kecuali satu jenis biochar yang berasal dari limbah konstruksi. Biochar ini menunjukkan kandungan logam berat yang tinggi, termasuk arsenik dan timbal, serta gagal dalam uji biologis. Cacing tanah menghindarinya, dan benih tanaman tidak tumbuh dengan baik. Biochar jenis ini dinilai tidak layak digunakan untuk perbaikan tanah, penyerapan karbon, maupun remediasi lingkungan.
Temuan ini menegaskan satu hal penting: sumber bahan baku sangat menentukan nasib biochar. Biochar yang dibuat dari limbah organik bersih dapat menjadi solusi lingkungan yang efektif, sementara biochar dari bahan tercemar justru berpotensi membawa racun ke dalam tanah dan rantai makanan.
Di sisi lain, studi ini juga menunjukkan betapa pentingnya standar dan pengujian yang ketat sebelum biochar digunakan secara luas. Di berbagai belahan dunia, biochar kini diproduksi oleh perusahaan, komunitas, hingga petani mandiri dengan beragam teknologi. Tanpa panduan yang jelas, manfaat besar biochar bisa berubah menjadi risiko tersembunyi.
Standar IBI hadir sebagai penyeimbang antara harapan dan kehati-hatian. Ia memastikan bahwa biochar bukan hanya hitam dan berpori, tetapi juga aman, stabil, dan benar-benar membantu tanah kembali hidup. Di era ketika solusi berbasis alam semakin dibutuhkan, biochar yang teruji dan terstandar bisa menjadi sekutu penting dalam menjaga kesuburan tanah, menyimpan karbon, dan membersihkan lingkungan, asalkan kita tahu persis apa yang kita masukkan ke dalam tanah.
