Setiap harinya, lebih dari separuh penduduk bumi menggantungkan isi piring mereka pada bulir-bulir beras. Dari bentangan Lembah Sichuan hingga pematang sawah di Nusantara, padi adalah urat nadi kehidupan. Namun, di balik hijau dan kuningnya hamparan sawah, tersimpan sebuah fenomena ekologi yang tenang tetapi berdampak besar bagi iklim global: sawah tergenang merupakan salah satu penyumbang emisi gas metana terbesar di sektor pertanian.
Metana adalah gas rumah kaca dengan kemampuan menangkap panas puluhan kali lebih kuat daripada karbon dioksida. Di dalam tanah sawah yang senantiasa tergenang air, suasana hampa oksigen menjadi surga bagi mikroorganisme purba bernama arkea metanogen. Mikroba-mikroba ini mengolah sisa-sisa bahan organik menjadi gas metana yang kemudian mengepul perlahan ke atmosfer.
Membuka Ruang Napas Bagi Tanah
Selama ini, metode pengairan berselang, teknik membiarkan sawah tergenang dan mengering secara bergantian, dikenal sebagai jalan keluar untuk menghemat air dan memutus siklus hidup mikroba pembuat metana. Namun, efektivitas pengairan berselang ini ternyata sangat bergantung pada bagaimana petani mengelola limbah jerami yang tersisa di lahan usai panen sebelumnya.
Sebuah pengamatan lapangan mengungkapkan bahwa cara menempatkan jerami menentukan apakah sawah akan menjadi penyimpan karbon yang ramah lingkungan atau justru pabrik penghasil gas rumah kaca. Ketika sisa jerami gandum dibiarkan terhampar di atas permukaan tanah sebagai mulsa dan dipadukan dengan pola pengairan berselang, sebuah sinergi ekologi yang mengagumkan terjadi.
Paparan udara di permukaan membuat jerami terurai secara alami dengan bantuan oksigen, mencegah penumpukan bahan organik terlarut di lapisan tanah dalam yang anaerobik. Kombinasi mulsa jerami di permukaan dan pengairan berselang ini mampu menekan emisi metana kumulatif hingga hampir 45 persen dan menurunkan potensi pemanasan global total hingga 39,6 persen. Yang paling mengesankan, penurunan emisi yang drastis ini tercapai tanpa mengorbankan kuantitas panen gabah sedikit pun.
Beda Cara, Beda Dampak
Sebaliknya, kesalahan dalam mengolah jerami dapat memicu dampak yang bertolak belakang. Membenamkan jerami secara langsung ke dalam lapisan tanah bagian dalam justru menciptakan kantong-kantong padat karbon tanpa oksigen. Ketika dipadukan dengan siklus pengairan yang kurang tepat, cara ini malah melonjakkan emisi metana hingga lebih dari dua kali lipat dan memicu pelepasan dinitrogen oksida, gas rumah kaca lain yang tak kalah berbahaya.
Dinamika ini menunjukkan bahwa mikrobioma tanah (seperti kelompok Methanobacterium dan Methanosphaera) sangat peka terhadap tingkat ketersediaan karbon terlarut dan kadar oksigen di sekitar akar. Pasokan udara secara berkala yang dikombinasikan dengan tutupan mulsa jerami terbukti ampuh meredam aktivitas biologis pembentukan metana.
Pada akhirnya, menjaga kelestarian bumi tidak selalu membutuhkan teknologi rumit berbiaya mahal. Dengan membiarkan jerami melindungi permukaan tanah dan memberi ruang bagi bumi untuk bernapas melalui pengairan yang terukur, para petani dapat terus memberi makan dunia sekaligus menjaga agar bumi tetap sejuk.
