Di banyak desa penghasil padi, ada satu pertanyaan yang semakin sering terdengar: bagaimana cara terus menanam padi ketika air makin sedikit dan tanah makin kehilangan nutrisi? Para petani yang menggantungkan hidup pada air irigasi kini menghadapi kenyataan baru, musim kering yang memanjang, pupuk yang makin mahal, dan ancaman pencemaran sungai akibat limpasan pupuk fosfor.
Namun di tengah tantangan itu, sebuah pendekatan baru perlahan menarik perhatian. Bukan teknologi yang rumit atau alat berat mahal, melainkan cara sederhana yang mengajak sawah untuk “bernapas” dan pupuk yang lebih ramah terhadap tanah dan air. Sistem ini dikenal sebagai Alternate Wetting and Drying (AWD), dipadukan dengan pupuk biochar berbasis struvite (BS). Keduanya menciptakan cara baru untuk menanam padi dengan lebih hemat air, menjaga kualitas tanah, dan mengurangi polusi fosfor.
Ketika Sawah Tidak Lagi Harus Selalu Tergenang
Selama puluhan tahun, sawah identik dengan genangan air permanen. Namun riset dan pengalaman lapangan mulai menunjukkan bahwa padi tidak selalu membutuhkan air setinggi mata kaki setiap saat. AWD mengubah pola itu: sawah digenangi, lalu dibiarkan kering beberapa hari, lalu digenangi lagi. Siklus basah-kering ini seperti ritme napas sawah, memberikan ruang bagi udara masuk dan mengurangi penggunaan air hingga seperempat dari biasanya.
Tetapi sistem ini tidak tanpa konsekuensi. Saat sawah mengering, tanah mengalami perubahan kimia yang membuat fosfor (salah satu hara paling penting bagi tanaman) mudah terperangkap dan tidak bisa diserap akar. Dan ketika air kembali mengalir, fosfor yang terlepas bisa mencemari saluran irigasi dan sungai. Dua masalah ini membuat para petani sering ragu untuk beralih ke AWD.
Di sinilah satu inovasi baru mulai menawarkan harapan.
Biochar-Struvite: Pupuk yang Cerdas Mengikuti Irama Tanah
Biochar berbasis struvite (BS) adalah jenis pupuk yang tampaknya diciptakan khusus untuk mengatasi sifat unik sistem AWD. Bentuknya seperti butiran hitam pekat, hasil penggabungan biochar (arang hayati kaya karbon) dengan mineral struvite yang perlahan melepaskan unsur hara.
Keunggulan BS ada dua:
pertama, sifat alkalinya membantu menjaga pH tanah tetap stabil saat sawah mengering;
kedua, struvite melepaskan fosfor sedikit demi sedikit, mengikuti kebutuhan tanaman alih-alih mencemari air.
Seperti pupuk yang bisa “mendengarkan” tanah, BS mengurangi risiko fosfor hilang saat sawah dibanjiri kembali, sekaligus mencegah fosfor mengikat erat saat kondisi tanah mengering.
Dampak Menakjubkan: Tanah Lebih Sehat, Panen Lebih Banyak
Ketika BS dicoba di sawah selama dua musim tanam, hasilnya mengejutkan. Pupuk itu hanya diaplikasikan sekali di awal, tetapi efeknya bertahan hingga musim berikutnya. Tanah menjadi lebih stabil, pH tidak turun drastis saat kering, dan fosfor tersedia lebih lama bagi tanaman.
Ada satu temuan penting: jika fosfor di tanah melewati ambang sekitar 20 mg per kilogram, risiko pencemaran fosfor meningkat tajam. Artinya, penggunaan pupuk justru perlu dikurangi sekitar 25 persen agar sawah tetap aman bagi lingkungan.
Ketika dosis pupuk dikurangi seperempat dan digabungkan dengan BS, sistem sawah menunjukkan kombinasi ideal:
- kadar fosfor di air permukaan turun hampir 6 persen,
- hasil panen naik hampir 5 persen,
- air yang digunakan berkurang,
- dan efisiensi penggunaan air melonjak lebih dari 20 persen.
Ini adalah kabar yang sangat berarti bagi petani kecil, lebih sedikit pupuk, lebih sedikit air, tetapi hasil bisa tetap meningkat.
Mengapa Semua Ini Penting?
Fosfor adalah unsur hara yang tidak terbarukan. Dunia sudah mengandalkan tambang fosfat selama puluhan tahun, dan sebagian besar cadangannya berada di daerah-daerah yang rentan secara geopolitik. Jika penggunaannya tidak diperbaiki, tidak hanya lingkungan yang terancam, tetapi juga ketahanan pangan global.
Sawah yang dikelola dengan sistem AWD sering dianggap hemat air tetapi berisiko melepas fosfor ke sungai. Namun dengan BS, kedua masalah itu (kehilangan nutrisi dan polusi) mulai menemukan jalan tengah.
Biochar membantu mengikat struktur tanah, struvite memberikan hara yang stabil, dan bersama-sama keduanya “menjinakkan” tantangan kimiawi sawah yang selalu berubah antara basah dan kering.
Menuju Masa Depan Pertanian yang Lebih Bijaksana
Cerita tentang BS dan AWD bukan sekadar tentang teknologi pertanian. Ia adalah kisah tentang bagaimana manusia belajar bekerja bersama alam, bukan melawannya. Bagaimana kita menemukan cara agar sawah tetap produktif tanpa menghabiskan air atau merusak sungai. Bagaimana inovasi sederhana bisa membawa perubahan besar bagi petani kecil.
Di tengah perubahan iklim dan tekanan kebutuhan pangan, solusi seperti ini (yang murah, ramah lingkungan, dan terbukti efektif) bisa menjadi masa depan bagi jutaan hektar sawah di seluruh dunia.
Sawah tidak hanya tempat padi tumbuh. Ia adalah ekosistem yang hidup, yang bisa bernapas, beradaptasi, dan pulih, asal kita bersedia mendengarkannya.
