Di banyak wilayah Afrika Barat, sawah bukan hanya bentang lahan yang digenangi air. Ia adalah tumpuan hidup, sumber pangan, dan harapan di tengah iklim yang kian tak menentu. Beras telah menjadi makanan pokok penting dan salah satu sumber kalori utama bagi jutaan orang. Dalam satu dekade terakhir, konsumsi beras di kawasan ini melonjak tajam, seiring pertumbuhan penduduk dan perubahan pola makan. Namun di balik meningkatnya kebutuhan itu, ada tantangan besar yang terus membayangi: air.
Pertanian menyerap sebagian besar air tawar yang diambil manusia dari alam. Secara global, sekitar 72 persen penarikan air digunakan untuk sektor ini. Padi sawah irigasi, yang menyumbang sekitar tiga perempat produksi beras dunia, termasuk tanaman yang paling haus air. Di tingkat lahan, sawah umumnya digenangi sejak pindah tanam hingga menjelang panen. Akibatnya, kebutuhan air padi bisa dua hingga tiga kali lebih besar dibandingkan gandum atau jagung.
Masalahnya, ketersediaan air semakin tertekan. Pertumbuhan penduduk, industrialisasi, dan pengelolaan sumber daya yang kurang optimal memperberat beban sungai dan waduk. Perubahan iklim membawa suhu yang lebih tinggi, hujan yang makin tak menentu, dan periode kekeringan yang lebih sering. Di kawasan Sudanian dan Sahelian, yang membentang di Afrika Sub-Sahara, ancaman kelangkaan air menjadi sangat nyata. Dalam waktu dekat, sebagian populasi dunia diperkirakan akan hidup dalam kondisi kelangkaan air absolut.
Di tengah situasi ini, para petani dan peneliti mencari cara agar sawah tetap produktif tanpa menguras cadangan air. Salah satu pendekatan yang semakin mendapat perhatian adalah irigasi berselang atau alternate wetting and drying. Berbeda dengan praktik penggenangan terus-menerus, metode ini membiarkan permukaan air di sawah surut hingga mencapai kedalaman tertentu di bawah permukaan tanah sebelum diairi kembali. Dengan kata lain, sawah tidak selalu tergenang, tetapi mengalami siklus basah dan kering secara terkontrol.
Di Asia dan Amerika, metode ini telah lama dipromosikan sebagai teknologi hemat air. Banyak laporan menunjukkan bahwa irigasi berselang mampu mengurangi penggunaan air sekaligus meningkatkan produktivitas air, yaitu jumlah gabah yang dihasilkan per satuan air. Namun satu pertanyaan penting tetap menggantung, terutama untuk kawasan kering Afrika Barat: apakah metode ini juga bisa menaikkan hasil panen dan pendapatan petani di tengah kondisi tanah dan iklim yang beragam?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, serangkaian uji lapangan dilakukan langsung di sawah petani di beberapa skema irigasi besar di Burkina Faso. Pendekatannya partisipatif, melibatkan petani dalam penerapan dan pengamatan di lahan mereka sendiri. Irigasi berselang diterapkan dengan ambang batas tertentu, yakni ketika muka air tanah turun hingga sekitar 15 sentimeter di bawah permukaan, sebelum sawah diairi kembali. Praktik ini dibandingkan dengan kebiasaan petani setempat yang umumnya menggenangi sawah sesering mungkin sesuai jadwal distribusi air di masing-masing skema.
Hasilnya memberikan gambaran yang menggembirakan. Secara umum, irigasi berselang mampu mengurangi penggunaan air irigasi hingga sekitar sepertiga dibandingkan praktik biasa. Di saat yang sama, hasil gabah justru meningkat secara rata-rata. Peningkatan ini memang tidak selalu besar, tetapi cukup konsisten sehingga berdampak nyata pada produktivitas air. Artinya, setiap liter air yang digunakan menghasilkan lebih banyak beras. Dari sisi ekonomi, keuntungan petani juga mengalami kenaikan.
Menariknya, keuntungan hasil yang diperoleh dari irigasi berselang tidak seragam di semua kondisi. Sawah yang akses airnya lebih terbatas justru menunjukkan peningkatan hasil yang lebih tinggi ketika metode ini diterapkan. Selain itu, varietas padi juga berpengaruh. Varietas tipe indica, misalnya, cenderung merespons lebih positif dibandingkan tipe tropical japonica. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan teknologi tidak hanya ditentukan oleh sistem irigasinya, tetapi juga oleh kombinasi kondisi tanah, iklim, dan pilihan varietas.
Selama ini, banyak penelitian tentang irigasi berselang dilakukan di stasiun percobaan dengan pengelolaan yang sangat terkontrol. Sementara di lapangan, kondisi jauh lebih kompleks. Jadwal distribusi air tergantung pada pengelolaan skema irigasi, infrastruktur, dan koordinasi antarpetani. Karena itu, pengujian langsung di lahan petani memberikan gambaran yang lebih realistis tentang potensi dan keterbatasan teknologi ini.
Temuan di kawasan kering Afrika Barat menunjukkan bahwa irigasi berselang bukan sekadar teori hemat air. Ia berpotensi menjadi strategi adaptif di tengah tekanan perubahan iklim dan keterbatasan sumber daya. Namun keberhasilannya memerlukan perubahan cara pandang terhadap pengelolaan air di sawah. Pemantauan tinggi muka air secara sistematis menjadi kunci agar fase kering tidak terlalu ekstrem dan tetap mendukung pertumbuhan tanaman.
Di masa depan, tantangan produksi beras tidak hanya soal memperluas lahan, tetapi juga tentang memaksimalkan efisiensi setiap tetes air. Ketika air menjadi semakin berharga, kemampuan untuk menghasilkan lebih banyak pangan dengan lebih sedikit air akan menentukan ketahanan pangan kawasan. Di sawah-sawah Burkina Faso dan wilayah kering Afrika Barat lainnya, irigasi berselang memberi secercah harapan bahwa keseimbangan antara produksi, efisiensi, dan kesejahteraan petani bukanlah sesuatu yang mustahil.
