Menepis Dahaga di Isan: Harmoni Arang Hayati dan Pengairan Berselang di Jantung Sawah Thailand

Menepis Dahaga di Isan: Harmoni Arang Hayati dan Pengairan Berselang di Jantung Sawah Thailand

Lanskap Provinsi Kalasin di timur laut Thailand (atau yang akrab dikenal oleh masyarakat lokal sebagai wilayah Isan) adalah sebuah bentang alam yang penuh dengan kontras. Di satu sisi, wilayah ini merupakan salah satu lumbung padi penting bagi Negeri Gajah Putih. Namun di sisi lain, Isan adalah salah satu kawasan yang paling rentan terancam oleh amuk perubahan iklim, mulai dari bencana kekeringan yang kian panjang hingga ketidakpastian pasokan air irigasi yang kian mencekik.

Sebagai salah satu produsen beras utama dunia, Thailand kini memikul misi ekologis yang ambisius: mencapai target emisi net nol (net zero emissions) pada tahun 2065. Tantangan terbesar untuk mewujudkan mimpi tersebut justru berada di bawah genangan air sawah tradisional. Sawah basah konvensional yang digenangi air secara terus-menerus adalah pabrik alami bagi gas metana (CH4), sebuah gas rumah kaca yang memiliki daya rekat panas di atmosfer jauh lebih agresif daripada karbon dioksida. Sektor budidaya padi sendiri menyumbang hingga lebih dari separuh total emisi gas rumah kaca dari seluruh aktivitas pertanian di Thailand.

Menghadapi dilema ini, sebuah pengamatan mendalam selama dua musim tanam dilakukan di tanah Kalasin. Para petani dan ilmuwan mencoba memadukan dua strategi agroekologi untuk mengubah wajah pertanian Isan, metode pengairan basah-kering berselang (Alternate Wetting and Drying/AWD) dan pemanfaatan arang hayati (biochar) dari limbah jerami padi.

Mengatur Napas Bumi Lewat Kedalaman Air

Metode AWD mematahkan tradisi berabad-abad yang menganggap sawah harus selalu menyerupai danau buatan. Melalui teknik ini, sawah dibiarkan mengering secara alami hingga menyentuh kedalaman tertentu di bawah permukaan tanah, sebelum akhirnya dialiri air kembali. Di Kalasin, para petani menguji tiga tingkat kedalaman pengeringan yang berbeda, yaitu 10 sentimeter, 15 sentimeter, dan 20 sentimeter di bawah permukaan tanah.

Ketika permukaan air surut dan tanah mulai bersentuhan dengan udara, pasokan oksigen segar meresap ke dalam pori-pori tanah. Kehadiran oksigen ini menjadi kabar buruk bagi mikroba anaerobik penghasil metana, sehingga produksinya terhenti drastis. Pengamatan di lapangan membuktikan bahwa penerapan metode pengairan berselang ini mampu memangkas emisi gas rumah kaca tahunan dari sektor sawah hingga mencapai 48,2%.

Semakin dalam tingkat pengeringan tanah dilakukan (hingga menyentuh angka 20 sentimeter), semakin besar pula kemampuan tanah dalam meredam pelepasan gas metana ke langit. Hebatnya lagi, pembatasan air ini sama sekali tidak mengoreksi volume hasil panen padi petani. Rumpun-rumpun padi di Isan terbukti tangguh dan tetap menghasilkan bulir-bulir gabah yang melimpah. Dari segi efisiensi, semua tingkat kedalaman AWD berhasil menghemat penggunaan air irigasi rata-rata sebesar 16,8% per musim, dengan potensi penghematan air paling tinggi dan optimal ditemukan pada tingkat pengeringan 10 sentimeter di bawah permukaan tanah.

Sentuhan Hangat Arang Jerami untuk Menyembuhkan Tanah

Sembari membiarkan tanah sawah bernapas secara berkala melalui pengaturan air, para petani juga menaburkan arang hayati yang dibuat dari sisa jerami padi mereka sendiri. Langkah ini melahirkan sebuah siklus sirkular yang humanis: mengembalikan apa yang tumbuh dari tanah kembali ke dalam tanah.

Aplikasi arang hayati ini bertindak layaknya obat penawar bagi tanah Isan yang mulai kelelahan. Setelah melewati dua musim tanam, tanah yang diberi asupan arang hayati menunjukkan perbaikan kesehatan yang signifikan. Sifat arang yang kaya akan pori-pori mikro membantu menaikkan tingkat keasaman (pH) tanah yang awalnya asam menjadi lebih netral dan ideal bagi akar tanaman.

Selain itu, arang hayati bertindak sebagai brankas alami yang mengunci karbon organik di dalam tanah (soil organic carbon sequestration) agar tidak menguap menjadi polusi udara, sekaligus membantu memotong emisi gas rumah kaca sebesar 8,01%.

Menimbang Sisi Ekonomi di Tingkat Pematang

Meskipun kolaborasi antara pengairan berselang dan arang hayati membawa berkah yang luar biasa bagi kelestarian lingkungan dan perbaikan kualitas tanah, kenyataan di atas dompet petani menunjukkan dinamika yang berbeda. Kombinasi keduanya secara statistik ternyata tidak memberikan efek bonus tambahan dalam hal penghematan air atau peningkatan hasil panen jika dibandingkan saat metode tersebut diaplikasikan secara terpisah.

Dari kacamata finansial, penerapan pengairan berselang (AWD) bersifat netral, ia tidak menambah pengeluaran ataupun mendatangkan keuntungan bersih instan secara langsung, karena harga jual gabah di pasar cenderung stabil. Di sisi lain, penggunaan arang hayati justru sedikit menurunkan keuntungan bersih petani pada tahun-tahun awal. Hal ini disebabkan karena petani harus mengeluarkan modal investasi tambahan untuk membuat atau membeli peralatan produksi arang hayati dari jerami tersebut.

Namun, bagi masyarakat Isan, nilai dari sebuah inovasi tidak hanya dihitung dari angka-angka di atas lembaran kuitansi pasar. Keberhasilan metode AWD dalam menghemat hampir seperlima pasokan air irigasi tanpa menurunkan produktivitas padi adalah sebuah benteng pertahanan yang sangat berharga dalam menghadapi ancaman kekeringan nyata akibat perubahan iklim global.

Sains yang humanis di timur laut Thailand ini memberikan sebuah pembuktian penting: bahwa dengan mengubah cara kita mengalirkan air dan memperlakukan sisa jerami, para petani lokal dapat terus menjaga lumbung pangan keluarga mereka tetap penuh, sembari ikut ambil bagian dalam menyembuhkan bumi dan memastikan tanah warisan leluhur mereka tetap subur untuk generasi yang akan datang.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *