Pernahkah Anda mendengar tentang biochar? Mungkin istilah ini terdengar asing, tetapi sebenarnya biochar punya potensi besar untuk membantu mengatasi masalah besar dalam peternakan, yakni bau tak sedap dan gas berbahaya yang berasal dari kotoran hewan. Seiring berkembangnya produksi ternak, volume kotoran hewan yang harus dikelola pun semakin meningkat. Kotoran ini tidak hanya menyebabkan bau menyengat, tetapi juga memancarkan gas-gas berbahaya seperti amonia, hidrogen sulfida, dan metana yang bisa merusak kualitas udara dan lingkungan.
Tapi ada kabar baik! Para Ilmuwan mulai mengeksplorasi cara-cara inovatif untuk mengurangi masalah ini, salah satunya adalah dengan memanfaatkan biochar, produk karbon yang dihasilkan melalui pembakaran bahan organik pada suhu tinggi. Biochar ini bukan hanya membantu mengurangi emisi gas berbahaya, tetapi juga bisa mengubah pH kotoran hewan, yang berperan penting dalam proses pembentukan bau dan gas tersebut.
Bagaimana pH Kotoran Memengaruhi Bau dan Emisi Gas?
Bakteri yang menghasilkan gas berbahaya seperti hidrogen sulfida (H2S) dan amonia (NH3) sangat bergantung pada pH kotoran hewan. Biasanya, gas-gas berbahaya ini paling banyak terlepas pada pH yang lebih rendah, sekitar 6,5 hingga 7,5. Oleh karena itu, dengan menambah biochar yang bersifat basa (alkalis), pH kotoran bisa dinaikkan, yang pada gilirannya akan mengurangi pembentukan gas-gas tersebut. Jadi, dengan menyesuaikan pH kotoran hewan, kita bisa mengurangi bau dan emisi gas yang merugikan.
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penerapan biochar pada kotoran babi bisa mengurangi emisi gas berbahaya seperti NH3 hingga 22,6%, H2S hingga 30%, dan senyawa bau lainnya hingga 26%. Ini menjadikan biochar sebagai solusi yang efektif dan praktis untuk mengelola emisi dari limbah peternakan.
Percobaan Pengaruh Biochar pada pH Kotoran Babi
Dalam percobaan ini, dua jenis biochar diuji: satu dengan pH tinggi dan berpori (HAP) yang memiliki pH 9,2, dan satu lagi dari kayu ek merah (RO) dengan pH 7,5. Biochar ini diterapkan di permukaan kotoran babi yang disimpan di luar ruangan dan di dalam pit. Kotoran babi yang disimpan di luar ruangan memiliki pH sekitar 7,55, sementara yang disimpan di dalam pit memiliki pH 8,00.
Hasil eksperimen menunjukkan bahwa biochar HAP dapat meningkatkan pH kotoran babi yang disimpan di luar ruangan, terutama di lapisan permukaan hingga kedalaman 10 mm. Setelah 4 hari, pH kotoran yang diberi biochar HAP naik dari 7,55 menjadi 7,79–8,90, sedangkan kotoran yang diberi biochar RO tetap hampir sama dengan kontrol (pH 7,57–7,64). Pada kotoran yang disimpan di dalam pit, baik HAP maupun RO tidak menunjukkan perubahan pH yang signifikan dibandingkan kontrol, meskipun ada sedikit penurunan pH pada lapisan permukaan.
Mengurangi Emisi Gas dengan Biochar
Penerapan biochar ini terbukti dapat mengurangi emisi gas berbahaya seperti amonia (NH3) dan hidrogen sulfida (H2S). Dengan meningkatkan pH pada lapisan permukaan kotoran, biochar mengubah cara gas-gas ini terbentuk, sehingga mengurangi baunya. Selain itu, biochar juga berperan dalam mengubah aktivitas mikroba yang bertanggung jawab atas pembentukan gas berbahaya ini.
Potensi Biochar untuk Peternakan Berkelanjutan
Salah satu hal yang menarik dari biochar adalah bahwa ia bisa menjadi solusi yang ramah lingkungan dan hemat biaya untuk mengelola limbah peternakan. Penerapan biochar yang sederhana dan biaya yang lebih rendah dibandingkan dengan teknologi mitigasi lainnya menjadikannya pilihan yang praktis dan efisien untuk peternak. Selain itu, biochar dapat dibuat dari berbagai sumber bahan baku, seperti limbah pertanian, sampah makanan, dan limbah hewan, yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan tertentu.
Solusi Cerdas untuk Mengelola Limbah Peternakan
Penerapan biochar pada kotoran babi tidak hanya membantu mengurangi bau tak sedap, tetapi juga mengurangi emisi gas berbahaya, menjadikannya solusi yang efektif untuk mengelola limbah peternakan dengan cara yang lebih berkelanjutan. Meskipun biochar sudah terbukti bermanfaat dalam beberapa eksperimen, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengembangkan teknologi ini agar bisa diterapkan lebih luas lagi dalam industri peternakan.
Dengan pemanfaatan biochar yang tepat, kita bisa menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan mengurangi dampak buruk dari limbah peternakan. Jadi, siapa sangka bahwa produk yang awalnya hanya dianggap sebagai limbah ini, ternyata bisa menjadi solusi yang cerdas dan ramah lingkungan untuk masa depan pertanian!
