Mengatasi Limbah Cair Industri Tekstil dengan Biochar Lokal!

Mengatasi Limbah Cair Industri Tekstil dengan Biochar Lokal!

Pengelolaan limbah cair industri yang tidak tepat dapat membahayakan kehidupan manusia dan lingkungan. Industri tekstil, sebagai salah satu kontributor utama degradasi air permukaan dan air tanah, termasuk di antara industri yang paling mencemari. Limbahnya yang mengandung berbagai bahan kimia dan pewarna membutuhkan pengolahan yang tepat sebelum dibuang ke badan air mana pun. Salah satu jenis pewarna yang paling banyak digunakan adalah pewarna azo, yang menyumbang 70% dari total produksi pewarna. Sayangnya, sekitar 10-15% dari pewarna ini lolos ke lingkungan, menyebabkan perubahan warna, peningkatan pH, serta kenaikan permintaan oksigen kimia (COD) dan permintaan oksigen biologis (BOD). Selain itu, pewarna ini dapat berdampak buruk pada manusia, seperti iritasi kulit dan kanker, serta menghambat aktivitas fotosintesis.

Salah satu tantangan utama adalah struktur molekul aromatik kompleks dari pewarna azo yang membuat zat ini sulit diatasi. Dampak karsinogenik dan tumorigenik serta kemampuannya mengubah karakteristik fisikokimia lingkungan menambah urgensi pengolahan limbah ini agar sesuai dengan peraturan lingkungan. Misalnya, pewarna azo non-reaktif dan reaktif telah dilaporkan beracun bagi mikroorganisme seperti E. faecalis, V. fischeri, dan C. butyricum. Studi juga menunjukkan toksisitas akut dari pewarna azo tertentu pada bakteri bioluminescent laut, menunjukkan bahwa beberapa pewarna sangat sulit terbiodegradasi.

Metode pengolahan konvensional seperti pengolahan biologis, koagulasi, flokulasi, osmosis balik, nanofiltrasi, dan ultrafiltrasi seringkali kompleks dan mahal. Selain itu, metode biologis memiliki kekurangan seperti biodegradabilitas rendah, desain dan operasi yang kurang fleksibel, kebutuhan lahan yang besar, dan waktu pengolahan yang lama. Oleh karena itu, metode alternatif seperti fotodegradasi telah dieksplorasi.

Adsorpsi dengan karbon aktif adalah salah satu proses pengolahan air limbah yang efektif, ekonomis, bebas lumpur, dan sederhana untuk dioperasikan. Namun, karbon aktif komersial relatif mahal, sehingga biochar menjadi alternatif yang menarik untuk pengolahan limbah, terutama di industri pewarna lokal kecil. Peneliti telah menemukan bahwa biochar yang dibuat dari bahan mentah seperti Brazillian pepperwood, serat kelapa, Eucalyptus, dan kulit kelapa sawit dapat efektif menghilangkan pewarna dan kontaminan lainnya dari air limbah. Misalnya, biochar dari residu pencernaan, kulit kelapa sawit, dan eucalyptus berhasil menghilangkan hingga 99,5% pewarna metilen biru dengan konsentrasi awal 5 mg/L.

Ghana adalah salah satu negara berkembang yang industri tekstilnya jarang mengolah limbah pewarnanya dengan metode yang efektif. Akosombo Textile Limited (ATL), salah satu industri tekstil terbesar di Ghana, menghasilkan limbah yang mengandung pewarna azo reaktif yang berpotensi mencemari lingkungan, terutama habitat akuatik di sekitar Sungai Volta dan Sungai Densu. Studi sebelumnya di Ghana mencoba mengolah limbah pewarna dengan dosis iradiasi gamma yang dikombinasikan dengan pengolahan kimia menggunakan hidrogen peroksida, natrium peroksida, dan ferrous ammonium sulphate. Namun, metode ini tidak terjangkau untuk negara berkembang seperti Ghana.

Oleh karena itu, diperlukan solusi yang lebih murah, efektif, berkelanjutan, dan melimpah yang dapat digunakan secara lokal untuk menghilangkan pewarna dari limbah industri tekstil. Mengubah sumber daya lokal seperti bambu dan labu menjadi biochar yang efektif dapat mengatasi masalah ini dan mengurangi biaya adsorben. Inovasi ini diharapkan dapat memberikan solusi yang lebih ramah lingkungan dan ekonomis untuk mengatasi masalah limbah industri tekstil di Ghana, sekaligus memanfaatkan sumber daya lokal secara optimal.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEnglish