Dunia hari ini sedang berkejaran dengan waktu demi menghadapi satu tantangan terbesar bagi kelangsungan hidup manusia: perubahan iklim global. Di atmosfer bumi, selimut gas rumah kaca yang kian menebal akibat aktivitas manusia menjadi dirigen utama di balik cuaca ekstrem yang tak menentu. Ironisnya, sektor pertanian yang bertugas mengisi piring makan kita justru ikut menyumbang sekitar 13 persen dari total emisi tersebut, terutama dalam wujud gas metana (CH4) dan dinitrogen oksida (N2O).
Di jantung persoalan ini, tanaman padi berdiri sebagai tiang penyangga pangan bagi separuh penduduk bumi. Menjelang tahun 2050, kebutuhan akan beras diproyeksikan melonjak hingga 28 persen. Sawah konvensional yang digenangi air secara terus-menerus adalah surga bagi mikroba pengurai bahan organik tanpa oksigen, yang membuang gas metana dalam jumlah masif ke langit. Di sisi lain, siklus kering-basah alami tanah melepaskan dinitrogen oksida melalui proses nitrifikasi dan denitrifikasi.
Menghadapi dilema global ini, perhatian dunia kini tertuju pada sebuah konsep penyelamatan lingkungan yang bersahaja namun bertenaga, sebuah metode pengaturan air yang lahir di India dan kini diadopsi secara luas di Asia yang dikenal sebagai Alternate Wetting and Drying (AWD), atau sistem pengairan basah-kering berselang.
Seni Memainkan Irama Air di Atas Tanah Sawah
Secara sederhana, metode AWD memutus tradisi sawah yang harus selalu menyerupai danau buatan. Melalui model ini, sawah diajak menari dalam ritme yang dinamis: digenangi air, dibiarkan mengering secara alami hingga menyentuh batas kelembapan tanah tertentu, dialiri air kembali, dan dikeringkan lagi.
Hasilnya sungguh luar biasa. Dibandingkan dengan pengairan tradisional yang boros, strategi ini berhasil memangkas pelepasan gas metana ke atmosfer bumi sebesar 37 hingga 77 persen, sembari menyelamatkan cadangan air irigasi dunia hingga 19 sampai 30 persen.
Namun, alam selalu memiliki hukum keseimbangan. Ketika tanah dibiarkan mengering dan oksigen masuk ke dalam pori-pori tanah, emisi gas metana memang turun drastis, tetapi kondisi ini memicu kenaikan emisi dinitrogen oksida. Terjadilah sebuah tatanan pertukaran (trade-off) di bawah pematang.
Beruntung, berbagai pengamatan global membuktikan bahwa gejolak kenaikan dinitrogen oksida ini tidak sampai merusak efek positif penurunan metana. Secara keseluruhan, potensi pemanasan global (GWP) dari sawah berselang ini tetap jauh lebih rendah.
Di Thailand, misalnya, metode pengairan berselang ini justru mampu mendongkrak hasil panen padi sebesar 12 persen sekaligus menekan total potensi pemanasan global hingga 22 persen. Di kawasan Asia Tenggara lainnya, seperti di Indonesia, Filipina, dan Vietnam, pembatasan air hingga kedalaman 15 sentimeter di bawah permukaan tanah terbukti efektif meredam emisi tanpa mengorbankan kesuburan tanaman.
Ragam Cerita dari Berbagai Belahan Bumi
Meskipun membawa potensi yang besar, keberhasilan metode pengairan berselang ini bukanlah sebuah rumus kaku yang bisa dipukul rata di semua tempat. Sifat dan efektivitasnya sangat peka terhadap kondisi lingkungan lokal dan cara petani mengelola lahannya.
Kisah dari Italia memberikan pelajaran berharga mengenai variabilitas ini. Pada tahun pertama penerapan, pembatasan air yang sangat ketat hingga 70 persen memang memangkas emisi metana hingga 97 persen, namun harus dibayar mahal dengan merosotnya hasil panen padi sebesar 33 persen. Baru pada tahun kedua, dengan penyesuaian yang lebih bijak, penghematan air sebesar 40 persen dapat berjalan selaras tanpa mengoreksi volume panen petani.
Ketidakpastian inilah yang mendorong para pemikir agroekologi untuk merancang strategi pendamping guna mengoptimalkan kinerja sawah berselang. Di beberapa tempat, pembenaman pupuk secara mendalam ke dalam zona perakaran terbukti mampu mendongkrak efisiensi penggunaan nitrogen dan meningkatkan hasil gabah.
Inovasi lain seperti penggunaan pupuk urea lepas-lambat di sistem padi sawah ganda, atau aplikasi arang hayati (biochar), terbukti ampuh memperkuat kemampuan pengairan berselang dalam mengunci gas metana. Sebaliknya, kebiasaan membenamkan jerami mentah ke dalam sawah yang basah-kering justru menjadi bumerang, karena membusuknya jerami mentah di saat yang salah malah memicu lonjakan emisi gas rumah kaca kembali.
Merajut Harmoni antara Produktivitas dan Kelestarian
Untuk menjembatani perbedaan hasil di berbagai belahan dunia, sebuah langkah evaluasi global yang komprehensif melalui metode meta-analisis kini dijalankan. Langkah ini mengumpulkan ribuan data dari berbagai jenis iklim dan karakteristik tanah di seluruh dunia untuk memetakan dengan pasti di mana dan bagaimana metode pengairan berselang ini dapat bekerja secara paling optimal.
Melalui pendekatan sains yang humanis ini, para petani tidak lagi diminta untuk memilih secara dilematis antara pemenuhan ekonomi keluarga atau kelestarian bumi. Pengaturan napas sawah melalui metode pengairan berselang yang dipadukan dengan teknik pemupukan yang tepat adalah sebuah jalan tengah yang bijaksana. Sebuah ikhtiar nyata untuk memastikan bahwa setiap bulir padi yang tumbuh dari rahim bumi dapat terus mengenyangkan perut miliaran manusia, tanpa harus mengorbankan kesejukan langit yang menaungi peradaban kita.
