Dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan dan menghadapi perubahan iklim, pertanian memiliki peran penting yang sering kali tidak terlihat. Salah satu praktik yang sudah lama dikenal dan terbukti bermanfaat adalah pengembalian jerami ke tanah. Praktik ini tidak hanya membantu meningkatkan kandungan karbon organik dalam tanah, tetapi juga mengurangi pencemaran udara akibat pembakaran jerami.
Namun, ada sisi lain yang perlu diperhatikan. Ketika jerami dibenamkan ke dalam tanah sawah, justru bisa meningkatkan emisi gas rumah kaca seperti metana (CH₄) dan dinitrogen oksida (N₂O). Kedua gas ini memiliki potensi pemanasan global yang jauh lebih besar dibanding karbon dioksida, masing-masing 23 dan 298 kali lipat. Gas-gas ini turut menyumbang pemanasan global secara signifikan, terutama dari lahan sawah yang tergenang air.
Apa Solusinya? Biochar!
Dalam beberapa tahun terakhir, biochar muncul sebagai solusi yang menjanjikan. Biochar adalah bahan seperti arang yang dihasilkan dari pembakaran limbah tanaman (seperti jerami) dalam kondisi minim oksigen. Biochar memiliki berbagai keunggulan, antara lain:
- Memperbaiki struktur tanah
- Meningkatkan pH tanah yang asam
- Menyimpan air dan nutrisi lebih baik
- Mendukung pertumbuhan mikroba baik dalam tanah
Yang paling menarik, biochar terbukti dapat mengurangi emisi metana dan N₂O dari lahan sawah. Tapi, efeknya tidak selalu seragam. Ada perbedaan tergantung pada jenis tanah, jumlah jerami yang digunakan, serta karakteristik biochar itu sendiri.
Apa yang Terjadi Ketika Jerami dan Biochar Digabungkan?
Jika hanya jerami yang ditambahkan ke tanah, emisi metana bisa meningkat hingga 72 kali lipat dibandingkan tanpa jerami, tergantung jumlah yang diberikan. Ini terjadi karena jerami menyediakan makanan bagi mikroba penghasil metana.
Namun, ketika biochar ditambahkan bersama jerami dalam jumlah tinggi, hasilnya luar biasa, emisi metana bisa berkurang lebih dari 50%! Biochar tampaknya membantu menyeimbangkan aktivitas mikroba: mikroba penghasil metana tetap ada, tapi mikroba yang “memakan” metana juga meningkat, sehingga gas metana yang terlepas ke udara jauh lebih sedikit.
Bagaimana dengan Emisi N₂O?
Dampak biochar terhadap gas N₂O ternyata lebih kompleks. Pada tanah dengan pH tinggi (alkalin), biochar mampu menekan emisi N₂O dengan meningkatkan jumlah mikroba yang mengubah N₂O menjadi gas nitrogen (N₂), yang lebih ramah lingkungan. Namun, pada tanah yang bersifat asam dengan kadar amonia tinggi, biochar justru bisa meningkatkan emisi N₂O.
Kenapa Hal Ini Terjadi?
Jawabannya terletak pada mikroba tanah. Tanah bukan hanya sekedar media tanam, tetapi merupakan rumah bagi miliaran mikroorganisme yang mengatur berbagai proses kimia, termasuk pembentukan dan penguraian gas rumah kaca. Biochar dan jerami mempengaruhi komunitas mikroba ini, sehingga memengaruhi seberapa banyak gas rumah kaca yang dilepaskan.
Selain itu, faktor-faktor seperti rasio karbon/nitrogen (C/N) tanah, pH, dan kondisi oksigen juga sangat menentukan. Kombinasi jerami dan biochar bisa mengubah kondisi ini dan mengarahkan proses biokimia ke arah yang lebih menguntungkan.
Kolaborasi Jerami dan Biochar Bisa Jadi Kunci
Mengembalikan jerami ke tanah memang merupakan langkah yang baik untuk meningkatkan kesuburan tanah dan mengurangi pembakaran terbuka. Namun, praktik ini harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak menjadi sumber baru gas rumah kaca. Di sinilah peran biochar menjadi sangat penting.
Gabungan jerami dan biochar, jika diterapkan dengan tepat sesuai jenis tanah, bisa menjadi solusi win-win: meningkatkan kesehatan tanah, menekan emisi gas rumah kaca, dan mendukung pertanian berkelanjutan.
