Mengeringkan Sawah untuk Menyelamatkan Iklim: Kisah Inovasi AWD dalam Budidaya Padi

Mengeringkan Sawah untuk Menyelamatkan Iklim: Kisah Inovasi AWD dalam Budidaya Padi

Sawah yang tergenang air telah lama menjadi pemandangan khas di banyak wilayah Asia Tenggara, termasuk Malaysia. Bagi sebagian orang, genangan itu adalah simbol kemakmuran dan ketahanan pangan. Namun di balik hamparan hijau yang menenangkan, sawah menyimpan persoalan yang tak terlihat oleh mata: emisi gas rumah kaca yang berkontribusi pada krisis iklim global.

Padi adalah makanan pokok bagi jutaan orang Malaysia. Setiap tahun, ratusan ribu hektare lahan ditanami padi untuk menjaga dapur tetap mengepul dan ketahanan pangan tetap terjaga. Namun metode budidaya padi yang umum digunakan selama ini (sawah yang terus-menerus digenangi air) menciptakan kondisi tanah tanpa oksigen. Di situlah bakteri penghasil metana bekerja, melepaskan gas rumah kaca yang daya pemanasannya jauh lebih kuat daripada karbon dioksida.

Dalam beberapa tahun terakhir, para peneliti dan praktisi pertanian mulai melirik pendekatan baru yang lebih ramah iklim: alternate wetting and drying, atau AWD. Metode ini mengubah kebiasaan lama dengan cara yang tampak sederhana, sawah tidak selalu dibiarkan tergenang. Air dialirkan dan dikeringkan secara bergantian, mengikuti kebutuhan tanaman.

Ketika Sawah Diberi Kesempatan Bernapas

AWD memberi tanah waktu untuk “bernapas”. Saat air surut, oksigen masuk ke dalam tanah dan menghambat pembentukan metana. Hasilnya, emisi gas rumah kaca dapat ditekan tanpa harus mengorbankan hasil panen.

Pengalaman dari berbagai negara menunjukkan potensi besar pendekatan ini. Di Brasil, sistem irigasi alternatif berhasil memangkas emisi secara drastis. Di Afrika dan Eropa, praktik serupa tidak hanya menurunkan jejak karbon, tetapi juga meningkatkan efisiensi penggunaan air. Malaysia pun mulai mengeksplorasi jalan yang sama.

Dua kawasan lumbung padi utama di Malaysia (Penang dan Selangor) menjadi contoh menarik. Di wilayah ini, sebagian besar emisi gas rumah kaca dari beras ternyata berasal dari tanah sawah itu sendiri. Saat praktik konvensional diterapkan, tanah menjadi penyumbang utama emisi sepanjang siklus produksi beras.

Ketika metode AWD diterapkan, kontribusi emisi dari tanah menurun cukup signifikan. Di Selangor, penurunan ini bahkan paling mencolok, sekaligus tetap mempertahankan hasil panen yang tinggi. Ini menunjukkan bahwa perubahan cara mengelola air dapat membawa dampak besar, terutama jika disesuaikan dengan kondisi lokal.

Tantangan di Balik Solusi

Namun AWD bukan tanpa tantangan. Saat tanah mengering dan kembali diairi, proses biologis di dalam tanah ikut berubah. Selain menekan metana, kondisi ini bisa memicu pelepasan dinitrogen oksida, gas rumah kaca lain yang juga kuat dampaknya terhadap iklim.

Pertanyaannya kemudian menjadi: apakah pengurangan metana cukup besar untuk menutup kemungkinan peningkatan gas lain?

Berbagai kajian menunjukkan jawabannya cenderung positif. Dalam banyak kasus, penurunan metana jauh lebih besar dibandingkan kenaikan dinitrogen oksida. Artinya, secara keseluruhan, jejak pemanasan global tetap menurun. Meski begitu, besarnya manfaat AWD sangat bergantung pada lokasi, jenis tanah, iklim, dan cara petani mengelola sawah mereka sehari-hari.

Di sinilah pentingnya melihat pertanian sebagai sebuah sistem utuh, bukan sekadar aktivitas di petak sawah.

Melihat Sawah dari Awal hingga Akhir

Pendekatan yang semakin banyak digunakan untuk memahami dampak lingkungan adalah life cycle assessment, atau penilaian siklus hidup. Cara pandang ini tidak hanya menghitung emisi di sawah, tetapi juga mempertimbangkan seluruh proses, mulai dari pengelolaan lahan, penggunaan pupuk, air irigasi, hingga panen.

Dengan sudut pandang ini, AWD tidak lagi dilihat sekadar sebagai teknik pengairan, melainkan sebagai bagian dari strategi besar menuju pertanian rendah emisi. Pendekatan ini membantu mengidentifikasi titik-titik kritis di mana emisi paling besar terjadi, sekaligus menunjukkan di mana perubahan kecil bisa memberi dampak besar.

Bagi Malaysia, ini menjadi sangat relevan. Sebagai negara yang berkomitmen pada penurunan emisi dan pembangunan berkelanjutan, sektor pertanian (khususnya padi) memegang peran penting. Mengubah cara sawah dikelola bisa menjadi langkah nyata untuk menekan jejak karbon nasional, tanpa mengorbankan ketahanan pangan.

Masa Depan Padi yang Lebih Ramah Iklim

AWD bukan sekadar teknologi, melainkan perubahan cara berpikir. Ia menantang anggapan lama bahwa sawah harus selalu tergenang agar padi tumbuh subur. Sebaliknya, metode ini menunjukkan bahwa memberi tanah jeda dari air justru bisa membawa manfaat ganda: menghemat air, menurunkan emisi, dan tetap menghasilkan panen yang baik.

Namun kunci keberhasilannya ada pada pendekatan yang spesifik lokasi. Apa yang berhasil di Selangor belum tentu identik hasilnya di Penang. Setiap wilayah memiliki karakter tanah, iklim, dan kebiasaan bertani yang berbeda. Karena itu, solusi terbaik bukanlah satu resep untuk semua, melainkan strategi yang disesuaikan dengan kondisi setempat.

Di tengah krisis iklim global, masa depan pertanian tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak kita bisa menanam, tetapi juga seberapa bijak kita mengelola alam. AWD memberi gambaran bahwa sawah bisa menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar sumber masalah. Dengan langkah-langkah kecil yang terukur, ladang padi di Malaysia dan negara-negara lain bisa tetap memberi makan dunia, sambil menjaga bumi tetap layak huni.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *