Pertanian berkelanjutan adalah solusi utama untuk memastikan ketahanan pangan global. Namun, tantangan besar seperti pengelolaan pupuk kimia, kekeringan, dan salinitas terus mengancam keberlanjutan sektor ini. Kedua tekanan lingkungan tersebut tidak hanya merugikan hasil panen tetapi juga membawa dampak besar pada keberlangsungan hidup jutaan petani.
Kekeringan dan Salinitas: Musuh Utama Petani
Saat ini, salinitas memengaruhi sekitar 3% sumber daya tanah dunia, terutama di wilayah semi-kering dan kering, yang kehilangan hingga 43% hasil panennya akibat masalah ini. Kekeringan, di sisi lain, menjadi bencana alam paling berdampak bagi petani. Dalam 40 tahun terakhir, wilayah terdampak kekeringan telah meningkat dua kali lipat. Bahkan, prediksi menunjukkan bahwa pada pertengahan abad ke-21, peristiwa kekeringan akan mencapai tingkat yang belum pernah terjadi dalam sejarah manusia.
Seiring dengan meningkatnya kebutuhan air di sektor pertanian yang diperkirakan naik 1,3 kali lipat pada 2025, dan populasi dunia yang akan mencapai 9 miliar jiwa pada 2050, tekanan untuk meningkatkan hasil panen menjadi sangat besar. Untuk itu, mengatasi dampak kekeringan dan salinitas bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
Nutrisi: Penyelamat Tanaman di Tengah Tekanan Lingkungan
Tanaman memiliki cara unik untuk beradaptasi dengan tekanan lingkungan. Salah satunya melalui penyerapan nutrisi penting seperti kalium (K), fosfor (P), dan silikon (Si). Nutrisi ini tidak hanya membantu tanaman bertahan, tetapi juga memperbaiki metabolisme tanaman yang terganggu akibat salinitas dan kekeringan.
Misalnya, silikon telah terbukti mampu meningkatkan daya tahan tanaman terhadap berbagai tekanan lingkungan, seperti panas, kekeringan, dan salinitas. Begitu juga fosfor, yang memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan ion dalam tanaman sehingga membantu mereka tetap sehat meski di tanah yang salin.
Namun, tantangan muncul karena ketergantungan pada pupuk kimia. Meskipun penggunaannya terus meningkat, hanya sekitar 10–15% dari pupuk ini yang benar-benar diserap oleh tanaman. Sisanya mencemari lingkungan, menyebabkan kerusakan tanah, dan memperburuk masalah kesehatan ekosistem.
Solusi Inovatif: Biochar dan Mikroorganisme Pemacu Pertumbuhan Tanaman (PGPMs)
Sebagai alternatif ramah lingkungan, biochar dan mikroorganisme pemacu pertumbuhan tanaman (PGPMs) mulai dilirik.
- Biochar: Terbuat dari limbah organik melalui proses pirolisis, biochar membantu meningkatkan kesuburan tanah, menahan air lebih lama, dan menstabilkan logam berat. Selain itu, biochar dapat meningkatkan serapan ion penting seperti kalium (K) sambil mengurangi penyerapan ion natrium (Na) yang merugikan.
- PGPMs: Mikroorganisme ini berperan besar dalam memperbaiki ketersediaan nutrisi di tanah, seperti fosfat dan silikat. Mereka juga memodulasi hormon tanaman, seperti asam absisat (ABA), yang membantu tanaman menghadapi kekeringan dan salinitas dengan lebih baik.
Membangun Masa Depan Pertanian yang Tangguh
Tekanan seperti kekeringan dan salinitas sangat memengaruhi tanaman pokok seperti padi, yang menjadi makanan utama bagi miliaran orang. Untuk itu, pendekatan inovatif dengan menggabungkan biochar, PGPMs, dan nutrisi penting seperti fosfor, kalium, dan silikon menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas tanaman sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
Dengan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, solusi ini memberikan harapan bagi masa depan pertanian yang lebih sehat, efisien, dan tahan terhadap perubahan iklim. Kini, saatnya kita melangkah menuju pertanian yang lebih ramah lingkungan demi memastikan kesejahteraan generasi mendatang. 🌱
