Di lembah-lembah pegunungan Nepal, ada satu tanaman yang dibenci banyak petani: Eupatorium adenophorum. Warga setempat menyebutnya Banmara, secara harfiah berarti “pembunuh hutan”. Semak invasif ini tumbuh cepat, mendominasi lahan, dan membuat pohon-pohon lain sulit bertahan.
Namun sebuah pendekatan baru menunjukkan bahwa gulma yang merepotkan ini justru bisa menjadi sumber kebaikan bagi tanah dan iklim. Caranya: mengubah Banmara menjadi biochar, arang hayati yang bisa memperbaiki tanah sekaligus mengunci karbon dalam jangka panjang.
Dari Gulma Pengganggu Menjadi Sumber Karbon Bernilai
Biochar adalah bahan kaya karbon yang dihasilkan dari membakar biomassa dalam kondisi minim oksigen. Berbeda dari abu biasa, biochar sangat stabil, ia bisa bertahan ratusan bahkan ribuan tahun di dalam tanah. Ketika dicampurkan dengan tanah, biochar dapat memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kemampuan menyimpan air, menaikkan pH tanah asam, dan membantu tanaman memanfaatkan nutrisi lebih efisien.
Di Nepal, para peneliti mencoba menggunakan Banmara sebagai bahan baku biochar, sekaligus menguji berbagai teknik pembakaran yang umum digunakan masyarakat pedesaan.
Menguji Beragam Jenis Tungku Tradisional
Berbagai tungku diuji dalam penelitian ini:
– tungku logam berbentuk kerucut,
– lubang tanah sederhana,
– kiln bata tradisional,
– kiln timbunan tanah,
– hingga tungku modern tipe TLUD.
Hasilnya mengejutkan: semua jenis tungku menghasilkan biochar berkualitas konsisten, terutama dari segi pH, kandungan karbon, luas permukaan, dan kemampuan menukar ion, faktor yang mempengaruhi kesuburan tanah.
Dengan kata lain, petani tidak perlu investasi mahal untuk membuat biochar yang baik. Lubang tanah sederhana pun sudah mampu menghasilkan biochar yang efektif.
Menguji Biochar pada Tanaman Jagung
Untuk melihat manfaatnya langsung, para peneliti melakukan percobaan pot menggunakan tanaman jagung, tanaman pokok di banyak wilayah Nepal. Tanah diberi biochar Banmara dengan dosis rendah dan tinggi. Ada biochar yang direndam nutrisi saat masih panas, yang direndam setelah dingin, dan yang dicampur terpisah dari pupuk.
Hasilnya jelas:
Biochar yang diperkaya nutrisi saat masih panas memberikan dampak terbesar.
Tanaman yang mendapat biochar jenis ini tumbuh jauh lebih subur dibanding tanaman yang diberi biochar biasa atau biochar yang dicampur pupuk secara terpisah.
Rendam nutrisi dalam biochar panas membuat pori-porinya terbuka, sehingga nutrisi masuk lebih dalam dan dilepas perlahan di tanah, layaknya pupuk slow-release alami.
Mengubah Tantangan Menjadi Peluang
Studi ini memberikan pesan yang kuat:
gulma invasif yang selama ini dianggap penghambat justru bisa berubah menjadi sumber daya penting.
Dengan biochar dari Banmara, petani Nepal dapat:
– menyuburkan tanah yang asam,
– meningkatkan hasil panen,
– sekaligus membantu mengurangi emisi karbon.
Biochar dari Banmara bukan hanya solusi untuk pertanian, tetapi juga langkah untuk memulihkan ekosistem dan memerangi perubahan iklim. Tanaman yang dulu menjadi masalah, kini justru bisa menjadi bagian dari penyembuhan.
Jika diterapkan luas, pendekatan ini dapat membantu komunitas pedesaan di Asia Selatan (dan mungkin juga di negara) negara lain, melihat gulma bukan lagi sebagai musuh, tetapi sebagai peluang keberlanjutan.
