Tahukah Anda bahwa sebagian besar antibiotik yang diberikan pada hewan ternak justru tidak diserap tubuh mereka? Sekitar 50–80% antibiotik, terutama jenis tetrasiklin, dibuang bersama kotoran dan urin hewan dalam bentuk yang belum berubah. Akibatnya, limbah ini mencemari tanah dan air, dan lebih buruk lagi, memicu munculnya bakteri yang kebal antibiotik.
Lalu, adakah cara sederhana dan murah untuk mencegah masalah ini?
Jawabannya: biochar, arang aktif yang dibuat dari limbah pertanian dan peternakan seperti jerami padi dan kotoran babi.
Mengapa Biochar?
Biochar adalah arang yang dibuat dari bahan organik yang dipanaskan tanpa oksigen (disebut pirolisis). Proses ini menghasilkan bahan kaya karbon dengan permukaan berpori, sangat cocok untuk menyerap polutan dari air dan tanah, termasuk antibiotik seperti tetrasiklin.
Biochar dari jerami dan kotoran babi ternyata punya kemampuan berbeda dalam menyerap tetrasiklin. Semakin tinggi suhu pirolisis (400 °C vs 600 °C), semakin baik pula daya serapnya. Salah satu jenis terbaik adalah biochar dari jerami yang dipanaskan pada 600 °C (R600), mampu menyerap antibiotik lebih banyak dibanding jenis lainnya.
Bagaimana Cara Kerjanya?
Proses penyerapan antibiotik oleh biochar melibatkan banyak tahap, dan sangat dipengaruhi oleh:
- pH air: memengaruhi muatan listrik pada permukaan biochar dan tetrasiklin
- Jenis bahan baku: biochar dari jerami lebih unggul dibanding biochar dari kotoran babi
- Suhu pirolisis: semakin tinggi suhunya, struktur biochar makin padat dan efektif
Biochar dari jerami memiliki daya serap alami yang lebih kuat. Ini karena struktur mikroporinya lebih ideal, serta komposisi kimianya yang lebih cocok untuk mengikat molekul tetrasiklin.
Kenapa Ini Penting?
Kehadiran antibiotik di lingkungan bukan sekadar mencemari air. Antibiotik ini juga dapat mempercepat evolusi bakteri kebal obat, menciptakan tantangan besar bagi dunia kesehatan. Jika tidak ditangani, kita bisa menghadapi masa depan di mana infeksi ringan pun bisa jadi mematikan karena obat tidak lagi efektif.
Sementara itu, metode pembersihan dengan bahan-bahan canggih seperti karbon aktif atau nanotube memang efektif, tapi harganya bisa mencapai $120–180 per kilogram, terlalu mahal untuk skala besar.
Biochar dari limbah lokal seperti jerami padi dan kotoran ternak hadir sebagai alternatif murah, alami, dan berkelanjutan. Selain membersihkan air, penggunaannya juga membantu mengurangi limbah peternakan dan pertanian, menjadikannya solusi dua arah.
Limbah pertanian dan peternakan kini tak lagi hanya menjadi beban lingkungan. Dengan sedikit inovasi, mereka bisa diubah menjadi penyerap alami untuk polutan berbahaya, bahkan berkontribusi dalam perang global melawan resistensi antibiotik.
Biochar dari jerami padi dan kotoran babi adalah bukti bahwa solusi lingkungan tidak harus rumit atau mahal. Kadang, jawabannya justru ada pada sisa-sisa sederhana di sekitar kita. Siapa sangka, arang dari limbah bisa jadi penyelamat air bersih masa depan?
