Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca, Peran Biochar dalam Pengomposan Kotoran Hewan

Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca, Peran Biochar dalam Pengomposan Kotoran Hewan

Gas rumah kaca seperti nitrous oxide (N2O) memiliki kontribusi yang signifikan terhadap perubahan iklim saat ini. Potensinya yang 265 kali lebih besar dari karbon dioksida (CO2) membuatnya menjadi sorotan utama dalam upaya mengurangi emisi gas rumah kaca. Salah satu sumber utama N2O adalah pengomposan kotoran hewan, yang, meskipun penting untuk manajemen limbah ternak yang berkelanjutan, juga menyebabkan kehilangan nitrogen yang signifikan ke atmosfer.

Pentingnya manajemen yang efektif dalam pengomposan kotoran hewan telah menjadi fokus utama para peneliti. Studi-studi telah menyoroti bahwa emisi N2O terjadi terutama pada tahap pendinginan kompos, saat proses denitrifikasi diaktifkan oleh bakteri. Dalam proses ini, nitrogen diubah menjadi berbagai bentuk yang kemudian dilepaskan ke udara sebagai N2O atau NH3. Meskipun telah ada upaya untuk mengurangi emisi ini melalui modulasi parameter pengomposan dan inokulasi bakteri pengikat N2, namun belum ada solusi yang menyeluruh.

Belakangan ini, penambahan biochar, sebuah material kaya karbon yang dihasilkan dari pirolisis biomassa, telah muncul sebagai alternatif menarik. Biochar memiliki potensi untuk meningkatkan retensi NH3/NH4+ selama proses pengomposan, yang dapat mengurangi kehilangan nitrogen ke atmosfer. Namun, sementara jalur mikroba yang terlibat dalam pembentukan N2O telah didokumentasikan, model-model statistik yang ada masih terbatas pada parameter fisiko-kimia tanpa memperhitungkan sifat mikroba.

Studi-studi telah menyoroti potensi biochar dalam mengurangi emisi N2O dari sistem pengomposan kotoran hewan. Biochar tidak hanya mengurangi emisi N2O tetapi juga memperbaiki kesuburan tanah melalui peningkatan retensi nitrogen. Dalam sebuah studi, pengukuran langsung dari aliran N2O yang diatur oleh biochar selama siklus hidup pengomposan kotoran hewan menunjukkan hasil yang menjanjikan. Hasil studi tersebut tidak hanya memberikan pemahaman yang lebih baik tentang interaksi antara emisi N2O dan kelimpahan gen fungsional terkait, tetapi juga membuka jalan menuju pengembangan model statistik yang lebih holistik untuk memperkirakan emisi N2O.

Kesimpulannya, penggunaan biochar dalam pengomposan kotoran hewan bukan hanya tentang mengurangi emisi N2O, tetapi juga tentang meningkatkan efisiensi proses pengomposan secara keseluruhan. Langkah-langkah ini bukan hanya relevan untuk pengelolaan limbah ternak yang berkelanjutan tetapi juga memiliki dampak positif pada mitigasi perubahan iklim secara global. Dengan lebih memahami peran biochar dalam pengomposan kotoran hewan, kita dapat melangkah menuju sistem pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEnglish