Peran Inokulasi Mikroba Termofilik dan Biochar dalam Pengomposan Kotoran Babi

Peran Inokulasi Mikroba Termofilik dan Biochar dalam Pengomposan Kotoran Babi

Produksi daging babi yang terus meningkat di Tiongkok telah menghasilkan limbah kotoran babi dalam jumlah besar, mencapai hampir 490 juta ton pada tahun 2015 menurut Biro Statistik Nasional Tiongkok. Kotoran babi mengandung zat berbahaya seperti logam berat, bau tidak sedap, parasit, dan patogen yang berpotensi membahayakan lingkungan dan kesehatan masyarakat jika tidak ditangani dengan baik. Namun, kotoran babi juga mengandung sejumlah besar bahan organik dan nutrisi seperti nitrogen, fosfor, dan kalium, menjadikannya sumber daya yang berharga jika dikelola dengan tepat.

Pengomposan aerobik merupakan metode pemanfaatan sumber daya penting untuk limbah organik, di mana bahan organik diubah menjadi zat mirip humus yang stabil secara biologis. Namun, proses ini seringkali lambat, memerlukan strategi tambahan untuk mempercepat dekomposisi dan meningkatkan kualitas kompos.

Inokulasi Mikroba Termofilik dan Biochar

Inokulasi mikroba termofilik dan penggunaan biochar merupakan strategi inovatif yang menjanjikan untuk meningkatkan efisiensi pengomposan. Penelitian terbaru mengevaluasi efek inokulasi mikrobiologis termofilik sendiri (TA) dan dikombinasikan dengan biochar (TB) terhadap karakteristik fisikokimia dan komunitas bakteri dalam pengomposan kotoran babi (PM) dengan jerami gandum.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik TA maupun TB mempercepat laju kenaikan suhu selama pengomposan PM. TA secara signifikan mengurangi kehilangan total nitrogen sebesar 18,03%, sementara TB mempercepat degradasi total karbon organik sebesar 12,21% dibandingkan dengan kontrol. Penggunaan biochar dalam TB tidak hanya mempercepat proses dekomposisi tetapi juga meningkatkan kekayaan dan keragaman bakteri dalam kompos.

Dinamika Komunitas Mikroba dalam Pengomposan

Firmicutes, Bacteroidetes, Actinobacteria, dan Proteobacteria adalah filum utama yang ditemukan selama pengomposan. Komposisi komunitas bakteri ini bervariasi tergantung pada periode pengomposan dan perlakuan yang diberikan. Pada tahap kenaikan suhu, genera Lactobacillus dan Clostridium_sensu_stricto mendominasi, sementara Bacillus menonjol pada tahap pendinginan. Faktor-faktor seperti suhu, total nitrogen (TN), dan nitrogen amonium secara signifikan mempengaruhi komposisi filum bakteri.

Selain itu, kandungan air dan nitrogen nitrit juga berperan penting dalam mengarahkan komunitas bakteri genera. Konsorsium mikrobiologis yang digunakan dalam penelitian ini terbukti tahan terhadap suhu tinggi dan mampu mengikat nitrogen, memperkaya bakteri Pseudomonas. Ketika dikombinasikan dengan biochar, degradasi total karbon organik dipercepat, menghasilkan peningkatan kekayaan dan keragaman bakteri serta kelimpahan Corynebacterium.

Manfaat Lingkungan dan Potensi Aplikasi

Penggunaan inokulasi mikroba termofilik dan biochar dalam pengomposan kotoran babi tidak hanya mempercepat proses dekomposisi tetapi juga mengurangi kehilangan nutrisi dan meningkatkan kualitas kompos yang dihasilkan. Biochar, dengan porositasnya yang tinggi, memberikan habitat bagi mikroorganisme yang menguntungkan, meningkatkan aktivitas mikroba, dan menyerap gas amonia, mengurangi emisi gas rumah kaca.

Pengomposan kotoran babi dengan metode ini menawarkan solusi yang berkelanjutan untuk pengelolaan limbah ternak, mengurangi risiko lingkungan dan kesehatan masyarakat. Selain itu, kompos yang dihasilkan dapat digunakan sebagai pupuk organik yang kaya nutrisi, mendukung pertanian berkelanjutan dan meningkatkan produktivitas tanah.

Inovasi ini menyoroti potensi besar inokulasi mikroba termofilik dan biochar dalam mengoptimalkan proses pengomposan kotoran babi. Dengan memahami dinamika komunitas mikroba dan interaksinya dengan kondisi fisikokimia, kita dapat mengembangkan strategi yang lebih efektif untuk pengelolaan limbah organik. Inovasi ini tidak hanya memberikan solusi lingkungan yang berkelanjutan tetapi juga menawarkan manfaat ekonomi melalui peningkatan kualitas kompos yang dihasilkan.

Penggunaan teknologi hijau ini diharapkan dapat menjadi langkah penting dalam menghadapi tantangan pengelolaan limbah ternak di masa depan, menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan pertanian yang lebih produktif.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEnglish