Pencemaran tanah akibat unsur beracun seperti kadmium (Cd) semakin menjadi perhatian karena dampaknya yang berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Salah satu solusi alami yang menjanjikan adalah phytoremediasi, yaitu metode pemulihan tanah menggunakan tanaman yang mampu menyerap dan menetralkan polutan. Namun, efektivitas phytoremediasi sering kali terhambat oleh pertumbuhan tanaman yang lambat serta keterbatasan dalam menyerap zat beracun. Untuk mengatasi masalah ini, para ahli menemukan bahwa mikroorganisme dan bahan tambahan tanah seperti biochar dapat meningkatkan kemampuan tanaman dalam membersihkan tanah.
Peran Mikroorganisme dalam Phytoremediasi
Beberapa jenis mikroorganisme diketahui mampu meningkatkan efisiensi phytoremediasi. Dalam sebuah studi, tiga jenis mikroba dipilih untuk diuji dalam mendukung pertumbuhan tanaman di tanah yang terkontaminasi kadmium, yaitu:
- Bakteri Pseudomonas mendocina – dikenal karena kemampuannya membantu tanaman menyerap nutrisi.
- Jamur arbuskular mikoriza (AMF, Funneliformis caledonium) – mikroba yang membentuk simbiosis dengan akar tanaman dan meningkatkan penyerapan unsur hara.
- Jamur Ceratobasidium – jamur tanah yang memiliki berbagai peran dalam ekosistem.
Tanaman yang digunakan dalam uji phytoremediasi ini adalah rumput Paspalum vaginatum dan Pennisetum alopecuroides, dua jenis rumput yang dikenal tahan terhadap kondisi lingkungan yang sulit. Percobaan dilakukan pada tanah yang telah terkontaminasi kadmium dalam tiga tingkatan berbeda: rendah (10 mg/kg), sedang (50 mg/kg), dan tinggi (100 mg/kg).
Hasilnya menunjukkan bahwa inokulasi AMF dan Pseudomonas mendocina secara tunggal mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman secara signifikan, dengan AMF memberikan hasil terbaik. Namun, kombinasi keduanya tidak menunjukkan peningkatan lebih lanjut. Sementara itu, jamur Ceratobasidium justru menghambat pertumbuhan tanaman dalam kondisi tanah dengan kadar kadmium tinggi.
Manfaat Biochar untuk Tanah yang Tercemar
Selain mikroorganisme, biochar juga menjadi bahan tambahan tanah yang efektif dalam meningkatkan phytoremediasi. Biochar merupakan karbon padat yang dihasilkan dari pembakaran limbah organik seperti jerami jagung. Biochar bekerja dengan beberapa cara, antara lain:
✔ Meningkatkan pH tanah, sehingga mengurangi toksisitas logam berat seperti kadmium.
✔ Meningkatkan kapasitas tukar kation (CEC) tanah, membantu menyerap lebih banyak logam berat.
✔ Memperkaya tanah dengan mineral penting seperti kalium (K), kalsium (Ca), fosfor (P), dan magnesium (Mg), yang mendukung pertumbuhan tanaman.
Dalam studi tersebut, kombinasi biochar dan AMF terbukti lebih efektif dibandingkan penggunaannya secara terpisah. Kombinasi ini meningkatkan biomassa tanaman Paspalum vaginatum sebesar 8,9–48,6% dan Pennisetum alopecuroides sebesar 8,04–32,92%.
Phytoremediasi dengan Rumput: Solusi Ramah Lingkungan dan Ekonomis
Salah satu tantangan phytoremediasi adalah rendahnya manfaat ekonomi, terutama jika tanaman yang digunakan hanya untuk keperluan remediasi. Oleh karena itu, pemanfaatan rumput tahan polutan seperti Paspalum vaginatum dan Pennisetum alopecuroides menjadi solusi cerdas. Selain dapat membersihkan tanah dari polutan, kedua rumput ini juga bisa digunakan untuk membuat taman atau lahan hijau, sehingga memiliki nilai tambah ekonomi.
Dengan pendekatan ini, kita tidak hanya bisa mengurangi dampak pencemaran tanah, tetapi juga menciptakan lingkungan yang lebih hijau dan sehat. Penggunaan kombinasi mikroorganisme dan biochar membuka peluang baru dalam strategi phytoremediasi yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
