Perubahan iklim adalah tantangan terbesar bagi masa depan umat manusia. Fenomena ini telah menimbulkan berbagai dampak nyata seperti peningkatan suhu global, curah hujan tak menentu, kekeringan, naiknya permukaan laut, hingga desertifikasi atau penggurunan di berbagai wilayah kering (IPCC, 2022; 2023). Oleh karena itu, mengurangi emisi karbon dan melakukan penyerapan karbon jangka panjang dalam skala besar menjadi sangat penting.
Lahan kering, yang mencakup lebih dari 40% permukaan bumi dan dihuni oleh lebih dari 2 miliar orang, menawarkan tantangan sekaligus peluang besar. Wilayah ini menghadapi berbagai masalah, termasuk tanah terdegradasi, pembuangan limbah organik yang tak tertangani, dan emisi karbon. Namun, lahan kering juga berpotensi menjadi solusi global jika dikelola dengan bijak. Berbagai negara telah memulai proyek penghijauan masif seperti Restorasi Ekologis Kubuqi di Tiongkok, Bamberger Ranch di Texas, AS, dan Saudi Green Initiative di Timur Tengah (Hong et al., 2023).
Tantangan Menanam di Lahan Kering
Menumbuhkan tanaman di wilayah kering dan hiper-kering yang memiliki curah hujan sangat rendah dan penguapan tinggi bukanlah hal yang mudah. Di sinilah peran tanaman asli menjadi penting. Tanaman-tanaman ini telah berevolusi untuk bertahan hidup dalam kondisi lingkungan yang keras seperti panas ekstrem, kekeringan, keterbatasan nutrisi, dan salinitas (Zandalinas et al., 2018).
Lebih jauh lagi, keberlanjutan proyek penghijauan bisa ditingkatkan jika tanaman-tanaman tersebut memiliki nilai ekonomi. Misalnya, tanaman yang menghasilkan produk bernilai tinggi untuk industri kosmetik atau farmasi. Ini bukan hanya membantu menciptakan lapangan kerja, tetapi juga mendukung pengembangan industri dan pertumbuhan ekonomi.
Moringa: Pohon “Emas Hijau” di Lahan Kering
Salah satu tanaman tahan kekeringan yang populer di Timur Tengah dan Afrika Utara adalah Moringa, baik spesies M. peregrina maupun M. oleifera. Pohon ini dikenal sebagai tanaman serbaguna yang memiliki nilai ekonomi, ornamental, dan farmakologis tinggi (Gao et al., 2020). Contohnya, di Arab Saudi, Gubernur Al-Ula telah bermitra dengan perusahaan Dior untuk menanam jutaan pohon Moringa sebagai bahan dasar industri parfum dan kosmetik bernilai tinggi (Arab-News, 2022).
Meski Moringa dapat tumbuh di tanah dengan nutrisi rendah dan curah hujan terbatas, teknologi modern dapat meningkatkan peluang keberhasilannya. Dua inovasi teknologi yang dikembangkan adalah Superhydrophobic Sand (SHS) dan Engineered Biochar (EB).
Teknologi Ramah Lingkungan: SHS dan EB
- Superhydrophobic Sand (SHS)
SHS adalah material inovatif berupa pasir berlapis lilin parafin dalam skala nano. Lapisan tipis ini menciptakan permukaan yang super tahan air dan diaplikasikan sebagai mulsa setebal 0,5–1 cm di atas tanah lembap. Fungsinya adalah mengurangi kehilangan air akibat penguapan dan menjaga kelembapan tanah, sehingga meningkatkan kesehatan tanaman. Tidak seperti mulsa plastik, SHS terurai secara alami oleh aktivitas mikroba tanah sehingga tidak mencemari lingkungan (Mishra et al., 2022). - Engineered Biochar (EB)
EB adalah produk hasil pirolisis (pembakaran tanpa oksigen) dari limbah daun pohon kurma pada suhu 500–600°C. Limbah ini, yang jumlahnya mencapai lebih dari 200.000 ton per tahun di Arab Saudi, biasanya berakhir di tempat pembuangan sampah atau dibakar, menghasilkan gas rumah kaca. Melalui pirolisis, limbah ini diubah menjadi karbon stabil yang dapat bertahan di tanah selama ratusan tahun. EB meningkatkan kapasitas tanah untuk menyimpan nutrisi dan air, memperbaiki kesehatan tanah, dan mendukung pertumbuhan tanaman.
Dengan menggabungkan SHS dan EB, lahan kering dapat ditanami tanaman seperti Moringa dengan lebih efisien. SHS membantu menjaga kelembapan tanah, sementara EB memperkaya tanah dengan nutrisi. Teknologi ini tidak hanya mendukung pertumbuhan tanaman, tetapi juga membantu meningkatkan fotosintesis dan penyerapan karbon dari atmosfer, berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim global.
Menuju Masa Depan Berkelanjutan
Melalui penerapan teknologi seperti SHS dan EB, proyek penghijauan di wilayah kering menjadi lebih berkelanjutan dan berdampak jangka panjang. Selain itu, pemanfaatan tanaman bernilai ekonomi tinggi seperti Moringa membuka peluang bagi pengembangan industri hijau, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal. Dengan pendekatan ini, lahan kering bukan lagi tantangan, tetapi solusi untuk masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.
