Di belahan bumi manapun, padi adalah tanaman yang sangat haus. Untuk menghasilkan satu kilogram beras saja, alam harus menyumbangkan setidaknya 2.500 liter air melalui hujan dan saluran irigasi. Di negara seperti Bangladesh—di mana nasi menjadi tumpuan hidup utama jutaan jiwa—kebutuhan air yang sangat masif ini menjadi tantangan besar dari tahun ke tahun.
Tradisi bertani konvensional sejak dahulu kala selalu mengandalkan metode penggenangan abadi. Sawah dibiarkan terendam air secara terus-menerus. Sayangnya, kebiasaan ini tidak hanya memboroskan cadangan air tawar yang kian langka, tetapi juga memicu masalah lingkungan yang serius. Genangan air yang membusuk di dasar sawah menjadi ladang subur bagi mikroba penghasil gas metana, salah satu gas rumah kaca paling berbahaya yang memicu pemanasan global. Tak hanya itu, genangan abadi juga meningkatkan penyerapan arsenik beracun ke dalam bulir beras.
Guna mengatasi persoalan ini, Lembaga Penelitian Padi Internasional (IRRI) mempopulerkan sebuah teknik ramah lingkungan yang dikenal sebagai Alternate Wetting and Drying (AWD) atau irigasi selang-seling basah-kering. Alih-alih merendam sawah sepanjang hari, teknik ini membiarkan tanah mengering sejenak hingga batas kedalaman tertentu sebelum air kembali dialirkan.
Inovasi sederhana ini terbukti ampuh menghemat air hingga 30 persen, menekan emisi gas rumah kaca hingga separuhnya, serta mengurangi kandungan arsenik pada beras. Namun, ada satu kendala manusiawi yang kerap membuat petani enggan menerapkannya: pengawasan yang sangat melelahkan.
Tantangan Pengawasan Manual di Tengah Sawah
Dalam metode irigasi basah-kering konvensional, petani harus rajin berjalan menelusuri pematang sawah saban hari. Mereka harus membawa alat ukur atau penggaris, lalu membungkuk memeriksa kedalaman air di dalam pipa pantau yang tertanam di lumpur.
Bisa dibayangkan betapa beratnya tugas ini, terutama saat cuaca ekstrem, hujan deras, atau ketika musim kemarau panjang tiba. Menentukan momen yang tepat kapan katup air harus dibuka dan kapan harus ditutup membutuhkan presisi yang sering kali menyita waktu dan tenaga para petani.
Melihat kepayahan tersebut, para ilmuwan di Universitas Pertanian Bangabandhu Sheikh Mujibur Rahman di Bangladesh mulai berpikir: mengapa tidak membiarkan teknologi yang mengawasi air, sementara petani bisa fokus pada perawatan tanaman lainnya?
Hadirnya Sang Pengawal Air Otomatis
Dari gagasan sederhana itulah lahir sebuah sistem irigasi basah-kering berbasis otomatisasi. Para peneliti merancang gabungan sensor pendeteksi ketinggian air, pengontrol elektronik, dan katup solenoid otomatis yang dipasang langsung pada pipa pemantau di tengah sawah.
Cara kerjanya terasa bagaikan sihir bagi para petani. Sensor pintar ini bertindak sebagai “mata” yang terus mengawasi permukaan air di bawah lumpur selama 24 jam sehari.
Ketika air sawah menyusut hingga menyentuh batas kritis di mana tanaman mulai membutuhkan minum, pengontrol elektronik secara otomatis membuka katup solenoid untuk mengalirkan air irigasi. Begitu air tergenang kembali mencapai ketinggian ideal yang aman bagi padi, sistem akan langsung menutup aliran air secara mandiri tanpa perlu disentuh tangan manusia sedikit pun.
Hasil Manis di Ujung Musim Panen
Pengujian ketat di lapangan memperlihatkan hasil yang sangat mengembirakan. Ketika dibandingkan dengan cara penggenangan tradisional, sistem otomatisasi ini mencatatkan tingkat efisiensi penggunaan air tertinggi, yakni mencapai 65,20 kg beras per hektar untuk setiap sentimeter air yang digunakan.
Yang paling menakjubkan, sistem otomatis ini berhasil memangkas penggunaan air irigasi hingga 20 persen jika dibandingkan dengan cara tradisional, tanpa mengorbankan tinggi tanaman, jumlah anakan, ataupun bobot hasil panen beras sama sekali. Padi tetap tumbuh subur dan melimpah, namun dengan jatah air yang jauh lebih hemat dan penggunaan tenaga kerja yang sangat minim.
Teknologi ini membuktikan bahwa sentuhan modernisasi di sektor pertanian tradisional bukan bertujuan untuk menggantikan peran petani, melainkan untuk meringankan beban keringat mereka. Dengan menyerahkan urusan pengawasan air kepada sensor otomatis, kita tidak hanya menghemat energi para petani di lapangan, tetapi juga sedang merawat ketersediaan air tawar dan menjaga masa depan bumi kita agar tetap hijau.
