Lebih dari separuh penduduk dunia menggantungkan hidupnya pada nasi. Setiap bulir beras yang kita santap adalah hasil dari kerja panjang di sawah-sawah yang tersebar di lebih dari 165 juta hektare lahan di seluruh dunia. Namun di balik peran besarnya sebagai penopang pangan global, pertanian padi juga menghadapi tantangan serius, mulai dari krisis air hingga ancaman pencemaran yang tak kasatmata.
Selama puluhan tahun, sawah padi dikelola dengan sistem tergenang terus-menerus. Air dialirkan tanpa henti, menciptakan hamparan genangan yang menjadi ciri khas lanskap pedesaan Asia. Metode ini memang efektif menjaga pertumbuhan padi, tetapi membutuhkan air dalam jumlah sangat besar. Diperkirakan hampir sepertiga air tawar dunia terserap ke sawah-sawah padi. Di tengah meningkatnya tekanan terhadap sumber air, pola ini semakin sulit dipertahankan.
Untuk menjawab tantangan tersebut, para ahli dan petani mulai melirik sistem irigasi berselang basah dan kering, yang dikenal sebagai alternate wetting and drying atau AWD. Dalam sistem ini, sawah tidak selalu dibiarkan tergenang. Air dikurangi hingga batas tertentu, lalu dialirkan kembali. Hasilnya cukup menjanjikan. Konsumsi air bisa ditekan hingga seperempatnya, sementara hasil panen relatif tetap terjaga. Bahkan, pendekatan ini turut menekan emisi gas rumah kaca dari sawah dan mengurangi akumulasi logam berat berbahaya di dalam bulir padi.
Namun, pengelolaan air bukan satu-satunya tantangan di sawah modern. Ancaman lain datang dalam bentuk partikel plastik berukuran sangat kecil, mikroplastik. Plastik mulsa pertanian, pupuk, hingga penggunaan air limbah berkontribusi terhadap meningkatnya jumlah mikroplastik di lahan pertanian. Di beberapa wilayah, jumlahnya mencapai ribuan partikel dalam setiap kilogram tanah kering. Sawah padi, dengan genangan airnya, menjadi salah satu ekosistem yang rentan.
Yang mengkhawatirkan, mikroplastik tidak hanya tinggal di tanah dan air. Penelitian menunjukkan partikel plastik berukuran mikro hingga nano dapat diserap oleh akar padi dan berpindah ke batang serta daun. Dampaknya bukan sekadar penurunan pertumbuhan dan hasil panen, tetapi juga potensi masuknya plastik ke dalam rantai makanan manusia. Mikroplastik kini dipandang sebagai pencemar baru yang mengancam kesehatan ekosistem dan keamanan pangan.
Di tengah persoalan ini, alam ternyata menyimpan solusi sederhana. Salah satunya datang dari tumbuhan air kecil yang sering dianggap remeh: duckweed atau Lemna minor. Tanaman hijau mungil ini kerap mengapung di permukaan air sawah, tumbuh cepat, dan mudah dipanen. Selama ini duckweed dikenal mampu menyerap nitrogen berlebih, menekan gulma, mengikat logam berat, hingga membantu menurunkan emisi gas rumah kaca.
Kini, duckweed juga dilirik sebagai “penangkap” mikroplastik alami. Permukaan daun dan akarnya yang lengket memungkinkan partikel-partikel plastik menempel dan terangkat dari air. Jika tanaman ini dipanen sebelum membusuk, mikroplastik yang menempel ikut terangkat keluar dari sistem sawah, mencegah pencemaran berulang.
Menariknya, sistem irigasi AWD justru dapat memperkuat peran duckweed ini. Ketika air sawah naik dan turun secara berkala, duckweed ikut bergerak, memperluas jangkauan kontaknya dengan mikroplastik yang mengambang maupun yang berada di permukaan tanah. Selain itu, perubahan kondisi basah dan kering memengaruhi struktur fisik duckweed, seperti tekstur permukaan dan sifat lengket akar serta daunnya, yang berpotensi meningkatkan kemampuannya menangkap partikel plastik.
Dengan kata lain, sawah yang “bernapas” melalui irigasi berselang bukan hanya lebih hemat air, tetapi juga memberi peluang bagi tumbuhan kecil untuk bekerja sebagai penyaring alami. Kombinasi pengelolaan air yang bijak dan pemanfaatan duckweed membuka harapan baru dalam upaya mengurangi pencemaran mikroplastik di sawah padi.
Tantangan pangan global hari ini bukan lagi sekadar menghasilkan cukup beras, tetapi memastikan bahwa beras tersebut tumbuh di lingkungan yang sehat dan berkelanjutan. Dari pengaturan air hingga peran tumbuhan air mungil, masa depan sawah padi mungkin bergantung pada solusi-solusi sederhana yang bekerja selaras dengan alam. Duckweed, yang selama ini terapung tanpa banyak diperhatikan, bisa menjadi sekutu penting dalam menjaga sawah tetap produktif, bersih, dan aman bagi generasi mendatang.
