Saat Sawah Mengering Sebentar: Cara Baru Mengurangi Pencemaran Herbisida di Lahan Padi

Saat Sawah Mengering Sebentar: Cara Baru Mengurangi Pencemaran Herbisida di Lahan Padi

Di banyak wilayah penghasil beras, sawah yang selalu tergenang air sudah menjadi pemandangan turun-temurun. Namun di balik hamparan air itu, tersembunyi persoalan serius: konsumsi air yang sangat besar dan risiko pencemaran lingkungan akibat bahan kimia pertanian. Salah satu bahan yang sering disorot adalah herbisida clomazone, senyawa ampuh pengendali gulma yang banyak digunakan di sawah padi, tetapi juga berpotensi mencemari tanah dan air.

Seiring meningkatnya tekanan akibat perubahan iklim dan keterbatasan air, para peneliti dan praktisi pertanian mulai melirik cara baru mengelola sawah. Salah satunya adalah sistem pengairan basah-kering berselang atau alternate wetting and drying irrigation (AWDI). Dalam sistem ini, sawah tidak terus-menerus digenangi, melainkan dibiarkan mengering hingga batas tertentu sebelum diairi kembali. Ritme ini meniru dinamika alami tanah, sekaligus menghemat air dalam jumlah besar.

Namun, perubahan cara mengairi sawah bukan tanpa konsekuensi. Tanah yang lebih sering “bernapas” karena fase kering bisa mengubah sifat kimia dan biologinya. Perubahan inilah yang kemudian memengaruhi nasib herbisida seperti clomazone: apakah ia akan terikat kuat di tanah, terurai perlahan, atau justru larut dan terbawa air ke sungai serta saluran irigasi.

Di sinilah biochar mulai berperan. Biochar adalah arang hasil pembakaran biomassa pada suhu tinggi dengan oksigen terbatas. Dalam konteks pertanian Mediterania, biochar dari hasil pangkasan pohon holm oak banyak tersedia dan relatif murah. Menariknya, bahan ini memiliki kemampuan menyerap air dan berbagai senyawa kimia, termasuk pestisida.

Ketika sistem pengairan basah-kering diterapkan bersama biochar, tanah sawah berubah menjadi semacam “penyaring alami”. Clomazone cenderung lebih banyak terikat pada partikel tanah, terutama ketika pengeringan dilakukan dengan tingkat yang lebih intens. Artinya, herbisida ini tidak mudah bergerak ke lapisan tanah yang lebih dalam atau hanyut bersama air.

Pengaruh biochar bahkan semakin jelas setelah ia “menua” di dalam tanah. Seiring waktu, permukaan biochar mengalami perubahan alami yang membuatnya semakin efektif menahan molekul herbisida. Dalam kondisi tertentu, kehilangan clomazone akibat pencucian bisa ditekan hingga beberapa kali lipat dibandingkan sawah konvensional yang selalu tergenang.

Menariknya, sistem pengairan basah-kering dengan tingkat sedang justru tampak sebagai kombinasi paling seimbang. Ia mampu mengurangi pergerakan clomazone tanpa menimbulkan tekanan berlebihan pada tanah dan tanaman. Ketika biochar ditambahkan, manfaatnya semakin terasa, terutama setelah beberapa musim tanam.

Temuan-temuan ini memberi pesan penting: pengelolaan air tidak hanya soal menghemat sumber daya, tetapi juga tentang mengendalikan risiko pencemaran. Dengan mengatur kapan sawah digenangi dan kapan dibiarkan mengering, petani secara tidak langsung mengatur perjalanan bahan kimia di dalam tanah.

Di tengah kekhawatiran global tentang kualitas air dan kesehatan ekosistem, pendekatan semacam ini menawarkan harapan. Sawah tetap produktif, kebutuhan air berkurang, dan risiko herbisida mencemari lingkungan bisa ditekan. Kombinasi pengairan basah-kering dan biochar menunjukkan bahwa solusi pertanian berkelanjutan sering kali tidak datang dari satu teknologi tunggal, melainkan dari perpaduan praktik sederhana yang saling menguatkan.

Pada akhirnya, masa depan pertanian padi mungkin bukan lagi soal sawah yang selalu tergenang, melainkan tentang keseimbangan: antara air dan tanah, antara produksi dan perlindungan lingkungan. Dari keseimbangan itulah, pangan dan alam bisa sama-sama terjaga.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *