Di banyak negara Asia, sawah identik dengan hamparan air yang tak pernah surut. Air menggenang sepanjang musim tanam, menciptakan pemandangan khas yang menenangkan sekaligus menjamin tanaman padi tumbuh optimal. Namun di balik keindahan itu, ada masalah yang jarang terlihat: sawah yang selalu tergenangi air menjadi salah satu sumber emisi gas rumah kaca terbesar dari sektor pertanian, terutama gas metana.
Kini, para peneliti dan petani mulai mencoba cara berbeda. Metode ini disebut alternate wetting and drying (AWD), atau pengairan berselang antara basah dan kering. Alih-alih membiarkan sawah terus terendam, air dikeringkan secara berkala, lalu dialirkan kembali sesuai kebutuhan tanaman. Praktik sederhana ini ternyata bisa mengubah wajah pertanian padi, bukan hanya dari sisi produksi, tetapi juga dari sisi lingkungan.
Di Malaysia, metode AWD mulai diperkenalkan sebagai strategi untuk menekan jejak karbon produksi padi. Dua wilayah lumbung padi utama, Penang dan Selangor, menjadi contoh menarik untuk melihat bagaimana perubahan cara mengairi sawah bisa berdampak besar pada emisi gas rumah kaca.
Hasil analisis siklus hidup produksi padi menunjukkan bahwa tahap budidaya di sawah merupakan penyumbang emisi terbesar. Di Penang, emisi gas rumah kaca dari tanah menyumbang sekitar separuh total emisi produksi padi. Di Selangor, angkanya bahkan mencapai delapan puluh persen. Ketika metode AWD diterapkan, kontribusi emisi ini menurun secara signifikan: menjadi sekitar empat puluh enam persen di Penang dan enam puluh tujuh persen di Selangor.
Menariknya, perbedaan karakter lingkungan dan kondisi tanah membuat dampak AWD tidak seragam. Di Penang, proporsi emisi tanah lebih rendah, kemungkinan karena faktor lingkungan yang memengaruhi jenis dan keseimbangan gas rumah kaca yang dilepaskan dari tanah. Di Selangor, meskipun emisi awal lebih tinggi, penerapan AWD justru menghasilkan penurunan emisi paling besar tanpa mengorbankan hasil panen.
Fenomena ini menunjukkan bahwa tidak ada satu solusi yang cocok untuk semua wilayah. Cara bertani, kondisi tanah, iklim, dan manajemen sawah lokal sangat menentukan efektivitas strategi pengurangan emisi. Di Selangor, misalnya, praktik pertanian konvensional menghasilkan emisi tertinggi sekaligus produktivitas tertinggi. Namun ketika AWD diterapkan, wilayah ini justru menunjukkan potensi terbesar untuk menekan emisi sambil tetap mempertahankan hasil panen yang tinggi.
Secara global, fenomena ini bukan hal baru. Di berbagai negara, praktik pertanian alternatif telah terbukti mampu menurunkan emisi metana secara signifikan. Sistem irigasi tetes di Brasil, metode tanam intensif di Senegal, hingga teknik tanpa olah tanah di Portugal menunjukkan bahwa perubahan kecil dalam pengelolaan lahan bisa membawa dampak besar bagi iklim.
Namun, cerita AWD tidak sepenuhnya sederhana. Ketika tanah sawah dikeringkan, kondisi aerobik dapat memicu pembentukan gas dinitrogen oksida, yang juga merupakan gas rumah kaca kuat. Artinya, pengurangan metana bisa saja diimbangi oleh peningkatan gas lain. Pertanyaannya: apakah keuntungan yang diperoleh lebih besar daripada kerugiannya?
Berbagai studi menunjukkan bahwa dalam banyak kasus, penurunan metana jauh lebih besar dibanding peningkatan dinitrogen oksida. Hasil akhirnya tetap berupa penurunan total potensi pemanasan global. Meski demikian, besarnya dampak sangat bergantung pada konteks lokal, frekuensi pengeringan, dan manajemen sawah yang diterapkan.
Di Malaysia, persoalan ini menjadi semakin penting karena sektor pertanian, khususnya padi, menyumbang porsi signifikan emisi gas rumah kaca nasional. Pada 2019, emisi metana dari sawah mencapai lebih dari dua ribu gigagram setara karbon dioksida. Angka ini menunjukkan bahwa perubahan cara bertani bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan.
Masalahnya, hingga kini masih sedikit kajian yang melihat dampak AWD secara menyeluruh, dari awal produksi hingga panen, termasuk trade-off antara metana dan dinitrogen oksida. Tanpa pemahaman yang utuh, sulit bagi pembuat kebijakan dan petani untuk menilai apakah praktik baru ini benar-benar lebih ramah lingkungan.
Di sinilah pendekatan analisis siklus hidup atau life cycle assessment menjadi penting. Dengan melihat seluruh proses produksi padi, mulai dari pengolahan lahan, penggunaan air, pupuk, hingga emisi gas, kita bisa mengidentifikasi titik-titik kritis yang paling berpengaruh. Pendekatan ini membantu merancang strategi mitigasi yang tidak hanya efektif, tetapi juga realistis bagi petani.
Lebih dari sekadar teknik irigasi, AWD membuka perspektif baru tentang masa depan pertanian padi. Sawah tidak harus selalu tergenang untuk menghasilkan panen yang baik. Dengan pengelolaan air yang lebih cerdas, petani bisa menghemat air, mengurangi emisi, dan tetap menjaga produktivitas.
Pada akhirnya, kisah AWD mengajarkan satu hal penting: solusi iklim tidak selalu datang dari teknologi canggih atau inovasi mahal. Kadang, perubahan sederhana dalam cara kita memperlakukan tanah dan air bisa menjadi kunci untuk mengurangi dampak pertanian terhadap perubahan iklim. Dan bagi negara-negara penghasil padi di Asia Tenggara, masa depan sawah mungkin tidak lagi selalu biru oleh genangan air, tetapi lebih seimbang antara kebutuhan pangan dan keberlanjutan bumi.
