Bagi lebih dari separuh penduduk dunia, nasi bukan sekadar makanan, melainkan penyangga kehidupan. Dari Asia hingga Afrika, padi tumbuh di lahan yang luasnya mencapai lebih dari 165 juta hektare. Namun di balik hamparan hijau yang tampak tenang itu, pertanian padi menghadapi tantangan besar yang kian kompleks: air yang semakin langka, perubahan iklim, dan polusi udara yang terus meningkat.
Selama berabad-abad, sawah identik dengan genangan air. Sistem irigasi tergenang dianggap sebagai cara paling aman untuk memastikan padi tumbuh subur. Namun di era modern, ketika kebutuhan air bersaing dengan industri, kota, dan energi, pendekatan ini mulai dipertanyakan. Air pertanian semakin terbatas, terutama di Asia, wilayah dengan konsumsi beras tertinggi di dunia. Menjaga hasil panen tetap tinggi sambil menggunakan air secara lebih efisien kini menjadi kunci ketahanan pangan global.
Di tengah tekanan tersebut, para petani dan ilmuwan mulai beralih ke pendekatan yang lebih adaptif, salah satunya adalah sistem irigasi berselang basah dan kering atau alternate wetting and drying (AWD). Alih-alih membiarkan sawah terus tergenang, AWD memberi jeda kering sebelum air dialirkan kembali. Hasilnya cukup menjanjikan. Penggunaan air menjadi jauh lebih efisien, emisi gas rumah kaca menurun, dan yang tak kalah penting, tanaman padi justru bisa tumbuh lebih kuat.
Salah satu persoalan klasik dalam budidaya padi adalah rebah atau lodging, ketika batang padi roboh sebelum panen. Rebah bukan sekadar soal tampilan sawah yang berantakan. Tanaman yang roboh mengalami penurunan fotosintesis, pengisian bulir terganggu, kualitas gabah menurun, dan panen menjadi lebih sulit. Kerugian pun meningkat, baik di sawah maupun pascapanen.
Ternyata, cara kita mengelola air sangat memengaruhi kekuatan batang padi. Sawah yang terus-menerus tergenang menciptakan kondisi tanah yang miskin oksigen. Akar padi kesulitan bernapas, pertumbuhan akar terhambat, dan batang menjadi kurang kokoh. Sebaliknya, pengeringan ringan yang terkontrol dalam sistem AWD memberi kesempatan bagi akar untuk berkembang lebih sehat. Batang padi menjadi lebih kuat dan risiko rebah berkurang, tanpa harus mengorbankan hasil panen.
Namun tantangan tidak berhenti di situ. Dari udara, ancaman lain datang dalam bentuk ozon permukaan. Gas ini terbentuk dari reaksi kimia polutan hasil pembakaran bahan bakar fosil, terutama di wilayah yang mengalami industrialisasi pesat. Konsentrasi ozon di dekat permukaan bumi terus meningkat sejak era praindustri. Selain berdampak buruk bagi kesehatan manusia, ozon juga bersifat racun bagi tanaman.
Pada padi, paparan ozon dapat mengganggu fotosintesis, menekan pertumbuhan, menurunkan hasil, bahkan melemahkan kekuatan batang. Dalam kondisi tertentu, ozon mempercepat dan memperparah terjadinya rebah. Sawah pun menjadi arena pertemuan dua tekanan sekaligus: keterbatasan air dari bawah dan polusi udara dari atas.
Di sinilah pendekatan pengelolaan air kembali menunjukkan perannya. Mengubah hidrologi sawah melalui AWD tidak hanya menghemat air, tetapi juga mengubah mikroiklim di sekitar tanaman. Tanah yang tidak selalu tergenang membantu akar bekerja lebih efisien dan mendukung pembentukan struktur batang yang lebih kokoh. Dengan batang yang lebih kuat, padi memiliki peluang lebih besar untuk tetap tegak meski menghadapi tekanan ozon.
Pendekatan ini memberi pelajaran penting bahwa adaptasi pertanian tidak selalu harus rumit atau mahal. Terkadang, kuncinya adalah menyesuaikan ritme alam. Membiarkan sawah “bernapas” melalui pengeringan sementara ternyata mampu meningkatkan ketahanan tanaman terhadap tekanan lingkungan yang semakin kompleks.
Di masa depan, pertanian padi tidak bisa hanya bergantung pada satu faktor, entah itu air, pupuk, atau varietas unggul. Tantangan modern menuntut pendekatan terpadu yang mempertimbangkan tanah, air, udara, dan iklim secara bersamaan. Sistem irigasi berselang seperti AWD menunjukkan bahwa dengan pengelolaan yang tepat, sawah dapat menjadi lebih hemat air, lebih ramah iklim, dan menghasilkan padi yang lebih kuat berdiri.
Dalam dunia yang terus berubah, kemampuan beradaptasi adalah kunci. Dan di hamparan sawah, adaptasi itu bisa dimulai dari hal sederhana: kapan air dibiarkan mengalir, dan kapan sawah diberi kesempatan untuk mengering sejenak.
