Padi adalah tanaman yang sangat istimewa. Menjadi makanan pokok bagi lebih dari separuh penduduk bumi, ia tumbuh subur di lahan-lahan yang digenangi air. Namun, hobi padi yang suka “berendam” ini memakan konsumsi air tawar 3 hingga 5 kali lebih banyak daripada tanaman biji-bijian lainnya. Tidak hanya boros air, sawah yang terus-menerus tergenang juga menjadi pabrik gas metana, gas rumah kaca yang menyumbang sekitar 11% dari total emisi akibat aktivitas manusia di seluruh dunia.
Di tengah ancaman perubahan iklim dan krisis air, para petani dan ilmuwan mulai melirik teknik pengairan berselang yang disebut IAWD (Irrigation Alternate Wetting and Drying). Sawah tidak lagi direndam terus-menerus, melainkan dibiarkan kering hingga batas tertentu sebelum diairi kembali.
Cara ini sangat ampuh menghemat air dan memotong emisi gas metana hingga lebih dari 80%. Udara yang masuk saat tanah mengering berhasil menekan kehidupan bakteri pembuat metana. Namun, ada efek sampingnya. Udara tersebut justru memicu bakteri lain untuk melepaskan lebih banyak gas karbon dioksida ($CO_2$). Akibatnya, kemampuan sawah untuk mengunci karbon dari atmosfer (yang diukur melalui indikator Net Ecosystem $CO_2$ Exchange (NEE)) menjadi menurun.
Para ilmuwan di wilayah timur laut Tiongkok tidak tinggal diam melihat dilema ini. Mereka mencoba memasukkan “pemain baru” ke dalam tanah: biochar, sebuah arang berpori kaya karbon seberat 20 ton per hektare.
Hasil eksperimen selama dua tahun tersebut membawa kabar gembira yang luar biasa. Biochar ternyata menjadi kepingan pazel yang hilang untuk menyempurnakan teknik pengairan berselang.
Ketika biochar ditaburkan ke sawah yang diairi secara berselang, ia bekerja layaknya pahlawan super bagi ekosistem tanah. Biochar merangsang tanaman padi untuk tumbuh lebih subur dan menyerap lebih banyak karbon dioksida dari udara melalui fotosintesis. Meskipun tanah tetap melepaskan karbon dioksida karena adanya udara, jumlah karbon yang diserap oleh tanaman padi jauh lebih besar. Alhasil, nilai NEE naik kembali sekitar 10%, yang berarti sawah tersebut kembali berfungsi efektif sebagai penyerap karbon bumi.
Keajaiban tidak berhenti di situ. Kombinasi antara biochar dan pengairan berselang ini juga berhasil menaikkan hasil panen padi hingga 11,3%. Di saat yang sama, ia terus menekan sisa-sisa emisi gas metana menjadi jauh lebih rendah lagi.
Ini adalah sebuah kemenangan mutlak bagi sains dan lingkungan. Kita tidak lagi harus memilih antara menghemat air, mengurangi gas rumah kaca, atau menghasilkan banyak beras. Dengan menduetkan arang biochar dan teknik pengairan berselang, kita bisa mendapatkan ketiganya sekaligus.
Inovasi sederhana namun berdampak raksasa ini membuktikan bahwa masa depan pertanian yang hijau dan berkelanjutan bukanlah hal yang mustahil. Dari sebutir arang dan pengaturan air yang bijak, kita bisa menjaga piring dunia tetap penuh tanpa harus membuat napas bumi sesak.
