Tak Sekadar Hemat Air: Cara Baru Sawah Menghadapi Ancaman Mikroplastik

Tak Sekadar Hemat Air: Cara Baru Sawah Menghadapi Ancaman Mikroplastik

Sawah selama ini dikenal sebagai lautan air dangkal yang tak pernah kering. Genangan itu dianggap kunci utama agar padi tumbuh subur. Namun, di tengah krisis air global dan ancaman pencemaran yang kian halus tak kasat mata, cara lama tersebut mulai dipertanyakan. Di balik permukaan sawah, kini tersembunyi persoalan baru, yaitu mikroplastik.

Mikroplastik adalah serpihan plastik berukuran sangat kecil yang berasal dari pupuk, plastik mulsa, hingga air limbah yang digunakan kembali untuk irigasi. Di lahan pertanian, terutama sawah, partikel-partikel ini terus menumpuk tanpa disadari. Lebih mengkhawatirkan lagi, mikroplastik tidak hanya mencemari tanah dan air, tetapi juga bisa masuk ke dalam jaringan tanaman padi dan berpotensi berakhir di rantai makanan manusia.

Di tengah persoalan tersebut, muncul peran tak terduga dari tumbuhan kecil yang sering dianggap gulma: duckweed, atau kiambang air. Tanaman air mungil yang mengapung di permukaan sawah ini ternyata memiliki kemampuan alami untuk menangkap mikroplastik yang melayang di air.

Duckweed bekerja seperti jaring hidup. Permukaan daunnya yang lebar dan akar-akar halusnya mampu menempelkan partikel mikroplastik melalui proses alami seperti melekat, terjebak, dan tersangkut. Jika tanaman ini dipanen secara rutin sebelum membusuk, mikroplastik yang menempel ikut terangkat keluar dari ekosistem sawah, mencegah pencemaran lanjutan.

Namun, kemampuan duckweed ini ternyata tidak berdiri sendiri. Cara manusia mengelola air sawah memainkan peran besar dalam menentukan seberapa efektif tumbuhan ini bekerja.

Selama puluhan tahun, mayoritas petani menggunakan sistem penggenangan terus-menerus. Cara ini memang terbukti aman bagi padi, tetapi membutuhkan air dalam jumlah sangat besar. Sekitar seperempat hingga hampir sepertiga air tawar dunia dihabiskan hanya untuk sawah. Di tengah perubahan iklim dan kekeringan yang makin sering terjadi, praktik ini menjadi beban besar bagi keberlanjutan pertanian.

Sebagai alternatif, diperkenalkan metode irigasi berselang, yang dikenal dengan istilah alternate wetting and drying atau AWD. Dalam sistem ini, sawah tidak selalu digenangi. Air dibiarkan surut hingga batas tertentu sebelum diairi kembali. Pendekatan ini memberi “napas” bagi tanah dan tanaman, sekaligus menghemat air secara signifikan.

Yang menarik, perubahan ritme air ini tidak hanya berdampak pada padi, tetapi juga pada duckweed. Saat sawah mengalami fase basah dan kering secara bergantian, duckweed bergerak lebih aktif di permukaan. Pergerakan ini meningkatkan peluangnya bersentuhan dengan mikroplastik, baik yang mengapung maupun yang sempat mengendap di dasar sawah.

Meski luas tutupan duckweed dan panjang akarnya bisa berkurang saat periode kering, efektivitasnya justru meningkat. Setiap satuan luas permukaan daun duckweed mampu menangkap mikroplastik jauh lebih banyak dibandingkan saat sawah terus tergenang. Permukaan daun menjadi lebih kasar, meningkatkan daya lekat dan kemampuan menjebak partikel plastik mikro.

Dengan kata lain, duckweed di sawah yang dikelola dengan AWD bekerja lebih efisien. Ia tidak harus tumbuh lebih banyak, tetapi bekerja lebih cerdas.

Manfaat AWD sendiri tidak berhenti pada penghematan air. Sistem ini terbukti mampu menekan emisi gas rumah kaca dari sawah, mengurangi akumulasi logam berat dalam beras, dan tetap menjaga hasil panen pada tingkat yang relatif stabil jika dikelola dengan tepat. Tantangannya memang ada, seperti penentuan waktu pengeringan yang sesuai dengan kondisi tanah. Namun dengan pengelolaan yang baik, risiko tersebut dapat diminimalkan.

Ketika duckweed dan AWD dipadukan, sawah berubah menjadi ekosistem yang bekerja secara alami untuk memulihkan dirinya sendiri. Tanaman kecil yang sering diabaikan menjadi sekutu penting dalam menjaga kebersihan air dan tanah, sementara pengelolaan air yang lebih bijak membantu menghadapi krisis iklim dan krisis air sekaligus.

Di tengah dunia yang semakin dibanjiri plastik, solusi tidak selalu datang dari teknologi canggih atau alat mahal. Kadang, jawabannya justru mengapung tenang di permukaan sawah, menunggu untuk dipahami dan dimanfaatkan dengan bijak.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *